Tuanku, Ulama Pesantren Khas Padangpariaman
Oleh: Satri Effendi (alumni pesantren Miftahul Istiqomah Sungai Asam Kabupaten Padang pariaman)

Kamis, 30 Jan 2020 | 06:48:48 WIB, Dilihat 461 Kali

Oleh ari

Tuanku, Ulama Pesantren Khas Padangpariaman

Baca Juga : Dorong Siswa Menulis, SMPN 2 Brebes Adakan Pelatihan Jurnalistik


Lain lubuk, lain ikannya. Pepatah ini juga berlaku bagi (calon) ulama yang dididik di pondok pesantren salafiyah yang ada di Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat. Sosok tuanku merupakan orang yang mengerti dengan agama, tahu adat, memahami rukun tigo baleh surau dan rukun tigo baleh kampung (ketek banamo, gadang bagala/kecil punya nama, besar punya gelar). Mengutip pendapat Drs. H.Muhammad Leter Tuanku Bagindo, tuanku adalah persenyawaan atau titisan dari filosofi Minangkabau adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah (ABS-SBK).   

Santri yang sudah belajar kurang lebih 7 tahun dan menguasai pelajaran tafsir, fiqih, nahwu, syaraf, sudah boleh mendapatkan gelar tuanku. Pemberian gelar tuanku merupakan bentuk menghormati kaji, bukan berarti santri sudah tamat belajar. Mereka yang diberi gelar tuanku oleh pimpinan pesantrennya, masih saja belajar dan mengajar sebagai gurutuo di pondok pesantren.

Adapun syarat pemberian gelar tuanku adalah ;

1).  Menyembelih satu ekor kambing.

2). Menyediakan juadah (sejenis makanan yang dibuat khusus pesta perkawinan di Padangpariaman).

3). Sedekah kepada guru (pimpinan pondok pesantren). Kondisi saat ini minimal Rp 100.000,-. Sedekah ini merupakan salah satu bentuk simbol menghormati guru. Selain itu, ada juga pimpinan pondok pesantren meminta kepada santri yang diberi gelar tuanku menyumbangkan 1 kodi kain sarung. Kain sarung tersebut diserahkan kepada pimpinan pondok pesantren, kemudian pimpinan pondok pesantren memberikan kepada ulama atau undangan yang dianggap perlu.

4). Pernah menjadi gurutuo. Tradisi di pesantren, santri kelas IV atau kelas V, sudah dibolehkan mengajar santri yang baru masuk di kelas I, II dan III. Hal ini memberikan manfaat ganda. Pertama, santri yang senior lebih menguasai bahan pelajaran yang sekaligus sebagai wadah latihan untuk menjadi seorang guru di kemudian hari. Kedua, beban mengajar pimpinan pesantren sangat terbantu oleh keberadaan gurutuo. Gurutuo dipercaya pimpinan pesantren untuk mengatur pelajaran dan santri yunior.       

Pemberian gelar tuanku  harus diminta oleh santri bersangkutan. Bila santri tidak berminat diberi gelar tuanku, juga tidak masalah. Pimpinan pesantren hanya memberikan gelar tuanku. Tambahan gelar tuanku di belakang namanya adalah pemberian ninik mamak dari santri sendiri. Biasanya ketika dilakukan pemberian gelar tuanku, pihak ninik mamak dari santri tersebut hadir dan bermusyawarah apa nama gelar yang akan disepakati. Nama tambahan tuanku  bisa diambil dari gelar ayah, atau warna kulit. Seperti Tuanku Bagindo, jika ayahnya bergelar Bagindo. Tuanku Sidi kalau ayahnya bergelar Sidi, dan seterusnya. Gelar yang diambil dari warna kulit seperti Tuanku Kuniang, yang memiliki warna kulit kuning. (Armaidi Tanjung. 2008:25-26)

Santri yang sudah mendapatkan gelar tuanku, jika di kaum (suku)nya akan diberi gelar datuak (penghulu) tidak dibolehkan lagi. Karena fungsi tuanku jauh lebih besar ketimbang fungsi penghulu yang hanya sebatas kaum dari santri tersebut. Fungsi tuanku adalah fungsi ulama, yang menjadi panutan dari umat. Fungsi dan pengaruh tuanku melampaui dari hanya satu kaum. Jika seorang sudah diberi gelar tuanku, maka tidak mau lagi memangku jabatan penghulu di kaumnya untuk diangkat sebagai datuak. Kalaupun ada yang terpaksa diangkat jadi penghulu, biasanya gelar datuknya jarak digunakan dibanding gelar tuanku yang diperolehnya.     

Menurut Pimpinan Pesantren Jamiatul Mukminin Azwar Tuanku Sidi, santri yang sudah diberi gelar tuanku harus menjauhi pantangan dari seorang tuanku. Ada lima pantangan yang harus selalu diperhatikan oleh seorang Tuanku.

  1. Manjaweh upah (menerima upah), misalnya  menjadi kuli.
  2. Minum di pondok layang-layang. Jika minum di jalanan, seorang tuanku harus tidak minum di pondok layang-layang. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kehormatan tuanku itu sendiri. 
  3. Harus menutup aurat. Jika seorang tuanku keluar dari rumah dan masuk rumah orang, harus menutup auratnya. Tidak boleh terbuka auratnya dari umum.
  4. Harus pakai kopiah ke luar rumah. Mereka yang sudah dikukuhkan sebagai tuanku, kemana pergi memasang kopiah  di kepalanya.
  5. Tidak boleh duduk di tempat berlangsungnya perjudian. (Armaidi Tanjung. 2008:27) 

 

Dalam perkembangannya, santri yang belajar di pondok pesantren harus menentukan pilihan setelah diangkat menjadi tuanku. Perkembangan terakhir, ada lima pilihan status harus diperankan setelah menjadi tuanku, yakni tuanku surau, tuanku kitab,  tuanku meja, tuanku NIP (PNS) dan tuanku aktifis.

Pertama, tuanku kampung. Tuanku ini setelah mendapatkan pengakuan tuanku dari pondok pesantren tempat ia belajar, hanya  mampu mengajar anak-anak mengaji di surau, masjid atau mushalla. Ilmu yang diperoleh selama di pesantren hanya mampu diamalkan untuk mengajar anak-anak TPA di surau. Sesekali diundang jamaah untuk mendoa selamatan di kampung. Seperti mendoa menjelang masuk bulan Ramadhan, doa bulan Rajab, doa selamatan mendapat sesuatu yang membahagia, atau melepaskan nazar.

Kedua, tuanku kitab.  Tuanku  ini memiliki kemampuan menguasai  kitab kuning (gundul) sebagai salah satu sumber mendalami ajaran agama Islam dan pemikiran  ulama salaf.  Ia memahami banyak kitab sebagai dasar menetapkan suatu hukum. Mampu menelaah satu persoalan dari berbagai pandangan ulama sebagaimana termuat dari sejumlah kitab. 

Ketiga, tuanku meja. Adalah tuanku yang pintar pidato, berdakwah, di depan meja. Ia mampu memukau jamaah dan hadirin ketika  menyampaikan dakwahnya.  Boleh jadi tuanku kategori ini kedalaman ilmu agama yang dimiliki tidak seberapa, namun karena kemampuan bicara dan vokal yang bagus, tetap saja dikenal orang.  Berbeda dengan tuanku kategori kedua yang memiliki kedalaman agama (malin), tapi tidak banyak dikenal orang.

Keempat,  tuanku NIP. Tuanku yang berprofesi sebagai pegawai negeri sipil, memiliki NIP (nomor induk pegawai). Kategori ini nyaris waktunya dihabiskan urusan pekerjaan sebagai PNS. Dalam bertindak sehari-hari cenderung bersikap sebagai seorang birokrat.

Kelima, tuanku aktifis. Seiring dengan perkembangan dan kesempatan berorganisasi, para tuanku sudah mulai banyak menjadi aktifis di sejumlah organisasi keagamaan, kepemudaan dan partai politik. Dengan bekal pengetahuan agama yang lebih mumpuni, tuanku ini memiliki penguasaan ilmu agama yang lebih baik dibanding aktifis kebanyakan.    

Demikian sekelumit tentang Tuanku, ulama khas pondok pesantren salafiyah di Kabupaten Padangpariaman Provinsi Sumatera Barat.  

 


Dorong Siswa Menulis, SMPN 2 Brebes Adakan Pelatihan Jurnalistik
  • Dorong Siswa Menulis, SMPN 2 Brebes Adakan Pelatihan Jurnalistik

    Rabu, | 16:14:34 | 190 Kali


  • Prihatin Banyak Remaja di Brebes Belum Bisa Baca Tulis Alquran
  • Prihatin Banyak Remaja di Brebes Belum Bisa Baca Tulis Alquran

    Rabu, | 16:12:21 | 239 Kali


  • SD N 19 Kampung Baru Inovasi Belajar Tambahan Siswa Kelas 6
  • SD N 19 Kampung Baru Inovasi Belajar Tambahan Siswa Kelas 6

    Rabu, | 15:40:00 | 190 Kali


  • Pemko Pariaman Study Tiru ke Mesjid Paripurna Kota Pekanbaru
  • Pemko Pariaman Study Tiru ke Mesjid Paripurna Kota Pekanbaru

    Rabu, | 15:33:57 | 224 Kali


  • Hujan Badai Guyuri Pariaman, Wawako Himbau Masyarakat Berhati-hati
  • Hujan Badai Guyuri Pariaman, Wawako Himbau Masyarakat Berhati-hati

    Rabu, | 15:26:17 | 219 Kali