Temuan Enam Naskah Keagamaan dari Sumatera Barat

Senin, 28 Des 2020 | 17:21:15 WIB, Dilihat 1649 Kali

Oleh ari

Temuan Enam Naskah Keagamaan dari Sumatera Barat Salah satu halaman naskah keagamaan di Sumatera Barat. (Foto: BLAJ/nuonline) 

Baca Juga : Evaluasi Akhir Tahun SMSI: Polisi Siber Silakan Diaktifkan


Sitinjausumbar.com - Salah satu penelitian yang didukung Balai Litbang Agama Jakarta (BLAJ) Badan Litbang Diklat Kemenag tahun 2020 ini  adalah penelitian Tradisi Palangkahan dan Manuskrip di Masyarakat Sumatera Barat; Studi Nilai-Nilai Agama dan Karakter. Para peneliti menemukan dan mengkaji sebanyak enam naskah.  

Pertama, Naskah Ulakan Naskah ini adalah milik Tuanku Herry Firmansyah yang merupakan Tuanku Khalifah 15 dari Tarekat Syattariyah dari jalur Shaykh Burhanuddin Ulakan. Naskah ini berisi palangkahan yang ditulis oleh Muhammad Bakri.

Berdasarkan informasi yang terdapat dalam naskah, naskah ini disalin pada tahun 1961. Naskah ini berukuran 14,4 cm x 19,8 cm dengan ukuran teks 14,1 cm x 18,7 cm. Saat diteliti, kondisi naskah masih baik dan bisa dibaca. Naskah ini menggunakan alas naskah berupa kertas lokal dengan jumlah halaman sebanyak 32 halaman. Aksara yang digunakan berupa aksara Arab dengan bahasa Arab dan Melayu (Jawi). Naskah ini terdapat di surau Pondok Ketek desa Koto Panjang, Ulakan, Padang Pariaman.   Kedua, Naskah Pariangan Para peneliti mengungkapkan, di nagari Pariangan, palangkahan hanya terdapat pada tiga tarekat yang ada di sana, yaitu Syattariyah, Naqsyabandiyah, dan Sammaniyah. Meskipun esksistensi ketiga tarekat tersebut tidak seperti pada masa lalu, tradisi palangkahan masih tetap ada dan lestari di masyarakat.  

Masing-masing tarekat memiliki manuskrip atau kitab yang dijadikan rujukan di dalam melakukan palangkahan.

Pertama, Naskah Palangkahan Tarekat Syattariyah.

Naskah ini masih tersimpan rapi oleh Aswardi Sutan Tumanggung. Ia adalah murid dari Datuk Sampuno Marajo, Mursyid Tarekat Syattariyah. Naskah ini ditulis oleh Aswardi sendiri pada saat ia mengikuti pengajian tarekat yang dilaksanakan di Surau Mudik Pariangan oleh Datuk Sampuno Marajo.   Berdasarkan penjelasan Aswardi kepada para peneliti, naskah tersebut ditulis olehnya pada tahun 1950-an. Artinya, naskah tersebut sudah berusia 70an tahun dalam sudah termasuk dalam kategori benda kuno atau naskah kuno karena lebih dari 50 tahun. Naskah ditulis dengan kertas bergaris, aksara yang digunakan adalah aksara Arab berbahasa Melayu. Teks masih bisa dibaca dan dipergunakan oleh Aswardi apabila ada masyarakat yang bertanya mengenai palangkahan kepadanya.  

Palangkahan kedua adalah dari Tarekat Naqsyabandiyah. Naskah ini koleksi Dalimi Kasim Datuak Mangkudun (berusia 78 tahun). Naskah palangkahan yang dimilikinya merupakan milik pribadi yang ditulis sendiri olehnya langsung pada saat mengikuti pengajian Tarekat Naqsyabandiyah Shaykh ‘Abdul Kadim Balubuih, murysid tarekat Naqsyabandiyah.

Naskah yang dimilikinya ditulis dengan menggunakan kertas bergaris, beraksara Arab berbahasa Melayu. Naskah dalam kondisi baik dan bias dibaca. Naskah ini juga digunakan oleh Dalimi untuk kalangan keluarga. Hampir 80 persen yang terdapat dalam naskah tersebut terjadi dan dialami oleh keluarganya.   Ketiga, Naskah Belubus (Teks Pertama)

Naskah ini berisi penjelasan palangkahan dengan menggunakan metode Bintang Dua Belas. Dua belas bintang tersebut asalnya merupakan materi dalam ilmu falak, yang kemudian dijadikan penentuan dalam astrologi yang sifatnya merupakan tajribat (prediksi berdasarkan kebiasaan). Nama-nama bintang itu seperti syams, marikh, atharid, ramal, qamar, dan lain-lain.  Naskah Bintang Dua Belas yang menjadi pembahasan dalam kajian ini merupakan versi dari   Syaikh Mudo Abdul Qadim Belubus yang ditulis dalam sebuah naskah berukuran folio. Naskah ini, berdasarkan dari kertas dan rentang masa aktifitas penyalin, ditulis sekitar awal abad 20. Kondisi naskah cukup baik; tulisan dapat dibaca jelas. Hanya saja bagian penjilidan yang rusak sebab benang jahitan yang rapuh sehingga beberapa bagian naskah terpisah dari penjilidan, namun susunan masih teratur.   Naskah ditulis dengan khat Naskhi yang tidak begitu rapi namun dapat dibaca dengan mudah. Tinta yang digunakan penyalin berwarna hitam tanpa rubrikasi. Naskah dalam bahasa Melayu beraksara Arab.   Sebagaimana yang telah disebutkan pada pembahasan sebelumnya, Bintang Dua Belas diambil dari kitab Abu Ma’syar al-Falaki, sebab tokoh ini yang mempopulerkan dan mengompilasi ilmu ini dalam sebuah kitab khusus. Naskah Bintang Dua Belas yang disalin oleh Syaikh Mudo Abdul Qadim Belubus merupakan salinan berbahasa Melayu dari teks Abu Ma’syar tersebut.   Ini dibuktikan dengan perbandingan isi teks antara naskah dengan teks cetakan berbahasa Arab yang kedua sama. Teks naskah ini pernah dicetak secara ringkas oleh anak penyalin yaitu Haji Abdul Malik dengan judul al-Manaq. Dalam praktik di surau, Naskah Bintang Dua Belas ini biasa dipakai untuk menentukan waktu baik untuk mendirikan rumah, melakukan perjalanan penting, dan mulai berdagang.   

Keempat, Naskah Belubus (Teks Dua)

Palangkahan dalam Naskah Belubus (teks 2 ) ini berdasarkan ghalib dan maghlub, tepatnya perjalanan nadi. Naskah ini ditulis anonymous (majhul); disinyalir oleh salah seorang khalifah Syaikh Mudo Abdul Qadim Belubus di Surau Tuo Belubus.   Teks naskah perjalanan nadi ini biasa digunakan untuk menentukan perjalanan dan waktu terbaik memulai usaha seperti berdagang atau bertani. Kondisi naskah cukup baik. Alas naskah merupakan kertas lokal bergaris. Sampul dari karton tebal yang beri kertas berwarna abu-abu. Penjilidan menggunakan benang yang dijahit pada masing-masing kuras naskah.    Dari analisa kertas, dan penanggalan yang terdapat dalam teks, naskah ini diproduksi akhir abad 19. Penulisan sendiri sekitar tahun 1910-an. Panjang dan lembar naskah 30,5 cm x 20,9 cm. Volume naskah 100 halaman. Naskah ditulis dalam khas Naskhi yang cukup rapi, dapat dibaca dengan jelas. Warna tinta yang digunakan ialah hitam tanpa rubrikasi.   Naskah berisi tentang berbagaimana hal tentang ilmu hikmah, pengobatan, dan beberapa bagian merupakan surat tanah dan surat wakaf. Bagian teks yang berisi tentang palangkahan (ilmu ramal) ialah halaman 70, hanya terdiri satu lembar penuh. Teks ini diajarkan pada beberapa pengikut tarekat, dan sampai sekarang masih dipergunakan untuk menentukan hari baik bulan baik, di Lima Puluh Kota Sumbar.  

Kelima, Naskah Koto Tuo Mungka

Naskah ini merupakan uraian palangkahan berdasarkan Ampek Galah Salapan. Menariknya, naskah ini bukan hanya berisi gambar (ilustrasi) dari Ampek Galah Salapan, namun juga dilengkapi dengan uraian tiap-tiap 'galah' berdasarkan tanggal bulan Hijriyyah.    Kondisi fisik naskah sangat baik. Teks ditulis diatas alas naskah kertas lokal bergaris dengan tinta hitam. Penulisan naskah diperkirakan pada tahun 1940-an sesuai dengan tulisan lain pada naskah yang berisi informasi pelajaran-pelajaran pada Madrasah Tarbiyah Islamiyah Koto Tuo Mungka.   Naskah ditulis dengan Arab Melayu. Jenis tulisan ialah naskhi yang sangat rapi, sehingga dengan mudah dapat dibaca. Naskah ini adalah dua halaman, yang terdiri dari ilustrasi Galah Salapan, dan pejelasan 'galah' dengan uraian tulisan dibingkai garis persegi, terletak di bawah ilustrasi.   Penulis naskah, besar kemungkinan, ialah Syaikh Muhammad Jamil Sa’adi (w. 1970), pimpinan Madrasah Tarbiyah Islamiyah Koto Tuo. Kemungkinan ini berdasarkan beberapa hal (1) ia merupakan pimpinan madrasah, sebagaimana yang disebut, (2) berdasarkan perbandingan karakter tulisan dengan teks-teks lain yang pernah ditulis oleh Syaikh Jamil Sa’adi, dan (3) informasi bahwa Syaikh Jamil Sa’adi ialah seorang tokoh ahli hikmah disamping ulama yang mumpuni dalam ilmu-ilmu keislaman.   Di samping Naskah Galah Salapan ini, Syaikh Jamil Sa’adi juga mewariskan Kitab Ta’bir Gempa. Naskah ini lebih tua usia dibandingkan dengan Naskah Galah Salapan, karena ditulis dengan alas kertas Eropa. Naskah Ta’bir Gempa juga merupakan prediksi-prediksi tentang kejadian dengan berpedoman kepada gempa bumi yang terjadi pada sebuah daerah.   Naskah Galah Salapan ini biasa digunakan untuk menentukan perjalanan, usaha seperti perniagaan dan bercocok tanam, pertemuan, keberuntungan, dan lain-lainnya. Sampai saat ini penggunakan Galah Salapan masih digunakan, terutama pada generasi tua. Misalnya, ketika lahir seorang anak, masyarakat akan bertanya tentang nama baik untuk si anak, berdasarkan prediksi Palangkahan nama itu kemudian diberikan.  

Keenam, Naskah Mungo

Naskah ini berisi ragam (diagram) Galah Salapan, berupa garis depan penjuru. Masing-masing penjuru ditulis dengan nama Galah Salapan. Naskah ini hanya ditemukan satu halaman saja dengan kondisi naskah yang cukup baik dan dapat dibaca dengan jelas. Tidak ditemukan uraian dalam naskah ini. Disinyalir naskah ditulis hanya untuk pemilik, tidak untuk umum, sehingga hal-hal yang penting dari pemaknaan setiap “galah” tidak diikut sertakan dalam tulisan.   Galah Salapan biasa digunakan ketika mencari waktu terbaik untuk bercocok tanam, memanen tanaman, mencari barang yang hilang, atau menemukan prediksi orang-orang yang hilang (pergi dari kampung halaman). Pengunaan Galah Salapan diperlukan kearifan khusus dari pengampunya, yang biasa dimiliki setelah memperoleh ijazah atau pengajaran dari guru. Tanpa kearifan tersebut isyarat dari “galah” yang diperoleh tidak akan dapat ditangkap. (Kendi Setiawan/nuonline/02)



Evaluasi Akhir Tahun SMSI: Polisi Siber Silakan Diaktifkan
  • Evaluasi Akhir Tahun SMSI: Polisi Siber Silakan Diaktifkan

    Senin, | 06:13:57 | 1513 Kali


  • Direktur Diktis Kemenag: Pemimpin Mahasiswa Harus Bervisi dan Bermimpi Besar
  • Direktur Diktis Kemenag: Pemimpin Mahasiswa Harus Bervisi dan Bermimpi Besar

    Minggu, | 13:46:42 | 1501 Kali


  • Menag Gus Yaqut Sampaikan Presiden Jokowi Perhatikan Nasib Pesantren saat Pandemi Covid-19
  • Menag Gus Yaqut Sampaikan Presiden Jokowi Perhatikan Nasib Pesantren saat Pandemi Covid-19

    Minggu, | 06:37:08 | 1529 Kali


  • Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Ace Hasan Sadili Minta Mahasiswa Harus Kritis
  • Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Ace Hasan Sadili Minta Mahasiswa Harus Kritis

    Minggu, | 06:08:21 | 1479 Kali


  • Mahasiswa Peserta Diklatpimnas Dibekali Networking Building
  • Mahasiswa Peserta Diklatpimnas Dibekali Networking Building

    Sabtu, | 06:20:26 | 1478 Kali