Tauladan Diri
Oleh:  Sidi  Tasrif  (Pengajar  di MTsN  1  Kota  Pariaman)

Selasa, 04 Jun 2019 | 11:12:52 WIB, Dilihat 72 Kali

Oleh ari

Tauladan Diri

Baca Juga : Bupati Padang Pariaman Dicintai Santri Karena Peduli Dalam Meningkatkan Generasi Penghafal Al-Quran


Wahai  orang-orang  beriman! Mengapa  kamu  mengatakan sesuatu  yang  tidak  kamu  kerjakan? (Itu)  sangatlah dibenci  disisi  Allah jika  kamu  mengatakan  apa-apa  yang  tidak kamu  kerjakan.” (QS. Ash-Shaff (61) :  2-3 )

 Rasulullah  SAW  sebagai seorang pendidik  sejati  yang  mengajarkan  banyak  hal  kepada  para   sahabat  lewat  tindakan  beliau.  Oleh  karena  itu,  para  ulama  mendefinisikan    sunnah  tidak  hanya  sebatas  yang  diucapkan   oleh  Nabi.  Tetapi,  juga apa  yang  beliau  lakukan   dan segala   yang  beliau   setujui   dilakukan  oleh  para  sahabat.

Hadis  nabi   yang diriwayatkan  oleh   Imam  Muslim, “  Shalatlah kamu  sebagaimana  kamu  melihat  aku  shalat”,   tidak  hanya  diamalkan   para  sahabat  khusus     dalam  hal  mendirikan  sholat,  tetapi  diterjemahkan  menjadi,  “  Hiduplah  kamu   sebagaimana   kamu  melihat  aku  menjladi   kehidupan.

Maka,  para  sahabat  benar-benar  menjalani  hari-harinya   sesuai   dengan  kebiasaan  Rasulullah  SAW. Banyak para  sahabat   Rasulullah  SAW   yang  mengabdikan   dirinya untuk  mencatati  sunnah  Rasulullah,  seperti  Abu  Hurairah  ra, yang  tidak  mau  kehilangan  satu  momentum  pun  bersama  Rasulullah  SAW.  Maka  kemana  saja  Rasulullah  SAW  beranjak,  Abu  Hurairah  ra. Akan  berusaha   untuk  mengikuti.  Alhasil,    sekarang  Abu  Hurairah        manfaat  ilmu    berupa  ribuan  hadis  untuk  kita  pelajari.  Tidak  hanya   yang  berupa  ucapan  Rasulullah  SAW  tetapi  berbagai  tindakan  beliau  yang  bisa  kita  teladani.

Ada  seorang   murid  dari  Imam Ibnul  Jauzi    yang  mengatakan, kulihat ada  5.000   orang  yang  menghadiri   majelis  Imam Ibnul  Jauzi.  Hanya  500  orang  diantara  mereka yang  datang  dengan  membawa  alat  tulis untuk  mencatat  ilmu.  Sedangkan yang  lainnya datang  untuk  belajar  mengenai  adab.  Mereka  menyaksikan  dengan cermat    bagaimana  sang  imam  bertindak.

Begitu  pentingnya  adab,  kita  belajar   untuk  senantiasa  mengeluarkan  sikap  yang terbaik.  Sikap  yang  terbaik  kepada  Allah  SWT,  Rasulnya,  para  ulama  yang  menjadi  guru  kita  dan  juga  kepada  semua  orang  seacar  umum.

Misalnya,  cara   para  sahabat    memuliakan  Rasulullah SAW,  mereka  tidak  berbicara  kepada  beliau,    kecuali  dengan suara   yang sangat  lembut.  Maka  tercatatlah  sebuah  kisah  yang menginspirasi  bagi  kita.

Adalah  seorang  sahabat  yang  bernama Tsabit  bin Qais  ra,  termasuk  sahabat  yang  rajin  hadir  di majelis  Rasulullah  SAW.  Namun,  suatu  hari   Rasulullah  SAW  tidak  melihat   Tsabit  hadir    diantara  para sahabat.

Rasulullah  SAW   pun bertanya, “ Dimana  Tsabit  bin  Qais?

Tidak  ada  seorang pun sahabat   yang mengetahuinya, hanya  ada   satu  orang  yang memberanikan  diri  memberikan informasi, “  Kami    tidak  tahu  apa  yang terjadi  padanya, wahai  Rasulullah.  Hanya  saja , saya  melihat  rumahnya  dalam  keadaan  terkunci  dan sepi.”

Rasulullah  SAW  pun memerintahkan  para  sahabat  untuk menjemput  Tsabit  bin Qais. Dan  Rasulullah  menanyakan  keadaan  yang sebenarnya.  Dengan terbata-bata  Tsabit  menjelaskan    ketidakhadirannya.  Rupanya,  Tsabit  khawatir  surah  al-Mujadilah  ayat 1-2  yang  melarang  para  sahabat  berbicara    dengan suara  yang  tinggi  kepada   Rasulullah  adalah  mengenai  dirinya.  Pasalnya,  Tsabit  memiliki  suara  yang keras  dibanding  para  sahabat  umumnya.  Maka, Tsabit  khawatir  ia  akan berbicara  dengan suara  yang  keras  jika  hadir  di  majelis, padahal  tindakan  seperti  itu  di benci  oleh  Allah  SWT.

Rasulullah  SAW dengan senyum  yang sejuk  menjelaskan, “  Wahai  Tsabit.  Bukan  dirimu  yang dimaksud   dalam ayat  tersebut.  Sesungguhnya  engkau  akan hidup  dalam kebaikan   dan mati dalam kebaikan”.

Setelah  itu,    barulah  Tsabit  bin Qais   menjadi  tenang. Karena  yang dimaksud  adalah       orang  yang   sengaja    meninggikan    suaranya   kala    berbicara    dengan Rasulullah SAW,  bukan  orang    seperti  Tsabit  yang  memiliki  suara  keras  sejak  semula.

Kisah  itu  memperlihatkan  kepada  kita    betapa  indahnya adab  para  sahabat kepada  Rasulullah  SAW.  Mereka  khawatir  yang diperingatkan     dalam wakyu   yang turun   adalah diri mereka.  Oleh karena  itu, mereka  was-was      dan senantiasa  mengevaluasi  diri.  Dengan adab  yang  mulia  itu, para  sahabat  menjadi  insan-insan     paling tinggi  derajatnya  setelah  para  nabi  (Mhd. Rois Almaududy, Dari  Rasulullah  untuk  Pendidik,  2018: 102-103).

Dari  mana  para sahabat    mendapatkan  contoh  adab yang    mulia  itu?  Dari  mana  para sahabat   mendapat  keteladanan  sehingga  berhasil    mengukir  kegemilangan? Jawaabnya, dari  pendidik  mereka, yaitu  Rasulullah SAW.

Syekh  Khalik  Muhammad Khalik  dalam  pengantarnya    di  buku  Karakteristik    Perihidup  60  Sahabat  Rasulullah  menjelaskan,   rahasia  kegemilangan    para sahabat    adalah  cahaya  kepribadian  Rasulullah  SAW    yang terpancar  pada  para  sahabat.  Cahaya  itu    mereka   peroleh  lewat  bimbingan  dan  arahan Rasulullah    yang mereka    ikuti  sebaik-baiknya.

Seorang  pendidik,  tugas  kita  tidak   hanya  menciptakan  sosok-sosok   yang memiliki   kemapanan  dibidang  pengetahuan.  Akan tetapi,  menuntun   mereka  agar   bisa    mengonversi  ilmu    menjadi  amal  yang  berguna.  Ada  banyak  orang   yang sebenarnya    mempunyai  pengetahuan   luas, tetapi  tidak  kunjung  manfaatnya   dalam bentuk  amal,  malah ada  pula   orang    yang menjadikan    pengetahuannya  sebagai  alaat  untuk menipu, mengecoh, memperdaya  dan  menyesatkan  orang  lain.

Seperti kisah  Snouck  Hurgronje,  tangan kanan  Belanda    ketika  hendak  menjajah  tanah Aceh.  Waktu  itu,  Belanda   menyimpulkan rahasia    kesungguhan    rakyat  Aceh    adalah ilmu  agama  yang diamalkan  dengan sangat  baik.  Maka,  mereka  mencari    celah   yang  bisa  dipakai   untuk  merapuhkan  pertahanan   rakyat  Aceh.  Belajarlah    Snouck Hurgronje  ke  Makkah,  karena    diketahui  bahwa  umat  Islam  di  Nusantara  umumnya    memperoleh  ilmu   dari  para  ulama  yang ada  di   Makkah  ketika  mereka  berhaji.

Snouck  Hurgronje  menyamar  menjadi  seorang  muslim,  ia  berpura-pura   dengan sangat  telaten,  bahkan namanua    pun   diganti  menjadi  Haji  Abdul  Ghaffar.  Karena  sudah memiliki  banyak  pengetahuan, tidak  jarang  pula  ia  memberi  petuah  untuk  masyarakat.  Nah,  kepercayaan  itulah  yang disalahgunakan.  Ia  memberikan fatwa-fatwa    yang menyesatkan, memecah belah ummat  dan merusak.  Apalagi  ia  sudah  menikahi   putri  seorang  tokoh di sana,  tidak  ada  yang  curiga  kepadanya.Keberhasilan  dicapai  Snouck Hurgronje   dalam  melaksanakan tugasnya.  Rakyat  Aceh  pada  akhirnya  menjadi lemah  dan  bisa  dikuasai  oleh Belanda.

Banyak  kita  lihat  sekarang ini,   orang  yan selalu  mengadu  domba  dan   memecah  belah  ummat  sehingga    mengambil  air  ditempat  yang keruh, ketika    terjadi  kekeringan dan kemiskinan  ilmu  mereka  mau  mencari  dengan berbagai  cara  demi  untuk ambisi  yang sesaat.  Ujung-ujungnya  masyarakat   yang  dikorbankan, dikarenakan mementingkan dirinya  sendiri.

Kita  tentu  harus  kritis  dan  tanggap  dalam menghadapi    informasi  yang     sesat  dan  tidak  mendasar.   Kita  harus  tabayyun  dan telaah  apakah  baik  atau  tidak.  Jangan sampai  diperalat  demi  untuk  keserakahan dan  nafsu  yang sesaat.

Banyak  orang    pandai-pandai  dan pintar  tapi  tidak  memiliki  kecerdasan yang  mumpuni.  Mau  saja  dijadikan alat  untuk  mencari  kesalahan  saudaranya    sendiri, sehingga  yang terjadi saling  curiga  mencurigai  dan saling  tidak  berbaik sangka.

Padahal,  yang  diharapkan  sifat  husnuzan atau  berbaik sangka  kepada  orang  lain   dan  kita  saling menghargai   berbagai  perbedaan  yang  ada.  Ketika  masalah  yang  dihadapi  terjadi,  kita  musyawarahkan  untuk mencapai  suatu kesepakatan, dan  cari  solusi  yang terbaik  apa  yang menjadi  tujuan  yang diharapkan.  Jangan    kita  mementingkan  ego sendiri,  yang  pada  nantinya  membawa  keburukan dan ketidakbaikan antara  satu  dengan  yang  lainnya.

Hal  ini  diperlukan adab  yang baik  dalam  menjadikan   sebuah  pijakan hidup  agar  memperoleh  keberkahan  di dunia  dan diakhirat  kelak.

Kata-katanya   yang menyentuh  hati  bagi orang  yang  mendengar, sehingga  memberikan dampak psikologis  baginya  untuk  selalu  menjadi  hidup  hanya  semata-mata  untuk  beribadah  kepadaNya.

Apapun yang  menjadi  tumpuan hidup,  berawal dari  dirinya  untuk  mengamalkan apa yang   diterimanya  dengan  penuh keikhlasan  karena  Allah.   Mereka, selalu  mendekatkan  diri  kepada TuhanNya   dengan  selalu  mentaati  perintah  Allah  SWT  dan  menjauhi  segala  larangaNya.

Semakin  banyak   bermunajab  kepada  Allah  SWT,   maka  Allah  berikan  ampunan  kepada  orang  yang memohon  ampun   kepadaNya.  Secara  langsung  akan  menjadikan  hidup  tenang  dan  penuh  dengan  kebaikan  dan  memberikan  manfaat  bagi  orang  lain.

Wallahu a’am  bishowwab

Pariaman, 3   Juni  2019/ 29  Ramadhan  1440  H

 



Bupati Padang Pariaman Dicintai Santri Karena Peduli Dalam Meningkatkan Generasi Penghafal Al-Quran
  • Bupati Padang Pariaman Dicintai Santri Karena Peduli Dalam Meningkatkan Generasi Penghafal Al-Quran

    Selasa, | 10:55:57 | 153 Kali


  • Aktifis NU, Membumikan Pancasila Pada Generasi Millenial
  • Aktifis NU, Membumikan Pancasila Pada Generasi Millenial

    Senin, | 11:22:24 | 52 Kali


  • Demi Keamanan Pesta Pantai, 32 Kapal Wisata Dicek
  • Demi Keamanan Pesta Pantai, 32 Kapal Wisata Dicek

    Senin, | 11:18:23 | 66 Kali


  • Sandaran
  • Sandaran

    Senin, | 11:08:04 | 113 Kali


  • Bulan Ramadlon, Mahasiswa Pascasarjana IAIN Tulungagung Gelar Pengabdian Masyarakat
  • Bulan Ramadlon, Mahasiswa Pascasarjana IAIN Tulungagung Gelar Pengabdian Masyarakat

    Minggu, | 13:42:16 | 70 Kali