Sentimen Sehat
Oleh: Duski Samad, Ketua Mui Kota Padang

Jumat, 22 Mar 2019 | 18:36:06 WIB, Dilihat 319 Kali

Oleh ari

Sentimen Sehat

Baca Juga : 30 Tahun Lebih Tak Berfungsi, Stasiun Naras Diresmikan Menhub


Allah SWT berfirman:

???????????? ?????????? ???????? ???????????? ????????? ????? ???????????????? ?????? ???????? ?????? ?????? ???????????? ????? ???????? ??????????? ???????????? ??????? ?????????? ???? ????????? ?????? ???????? ??????? ?????????????????????? ??????? ??????????????? ??????? ???????? ?????????

"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang."

(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 12)

 

Ayat di atas relevan untuk di mauidhzahkan, diajarkan, disosialisasikan dan dinternalisasikan kepada semua pihak dan lebih penting lagi pada umat, sebagai kontral sikap dan jiwa dalam menyikapi dan menghadapi musim fitnah, hoax, serta kasus yang meluber pada pembusukkan institusi, seperti kasus OTT seminggu yang lalu.

Seminggu sudah, Jum'at, 15 Maret 2019 lalu, kasus OTT ketua Partai Politik Islam yang melibatkan pejabat Kementrian Agama diselidiki KPK dan menjadi trending topik nitezen, lapau, group wathshap, facebook, talkshaw di TV nasional, di media massa dan media sosial telah mengakibatkan adanya burning issues yang menghaguskan mentalitas, harga diri dan boleh jadi menimbulkan frustasi dan deprepsi bagi siapapun yang berada dilingkungan Kemenag, termasuk mereka yang sama sekali tidak tahu menahu, tidak pernah bersinggungan dengan praktek bejat seperti yang diduga dan dikomentari publik.

Harus ada penjelasan konkrit dan nalar sehat untuk meminimalisir effek sentimen sakit, tidak proporsional dan dikhawatirkan membawa pengaruh bagi kelembagaan.

Keluarga besar Kementrian Agama dengan segala jajaran diminta untuk cerdas, jujur dan terbuka menjelaskan makna dari kearifan lokal adat Minang "ciek lantai nan patah, ciek di ganti" " sikue kabau ba kubang, tidak harus seluruhnya kanai lumpurnyo". " tibo di mato indak di piciangkan, tibo di paruik indak di kampih an" itu semua berarti kita dihimbau untuk proporsional dan tidak berlebihan.

 

Pendidikan Sentimen Sehat

Kenyataan dunia informasi dan komunikasi yang luas, cepat dan tersambung, seperti tiada batas saat ini memerlukan kemampuan literasi tingkat tinggi disertai pula dengan kejernihan hati dalam meresponinya.

Judul tulisan Sentimen Sehat di atas dimaksudkan untuk memberikan pendidikan dan pengertian bahwa sentimen itu boleh-boleh saja, namun harus dibarengi dan dikendalikan dengan nalar sehat. Maksudnya sentimen yang tidak bernalar sehat menjadi pembunuh berbahaya bagi mereka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian orang sekitar lingkungan kerjanya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sentimen adalah pandangan atau pendapat yang didasarkan pada perasaan yang berlebih-lebihan. Pengertian sentimen yang asalnya perasaan, itu artinya ia mudah berubah dan bisa saja ia membuat orang larut, (baper), bawa perasaan. Sentimen yang ukurannya perasaan itu dapat dengan mudah bergerak diluar nalar sehat. Sentimen itu subyektif, ukurannya boleh saja, suka tidak suka, senang tidak senang, like and dislike, oleh karenanya sentimen tidak boleh dibiarkan liar. Sentimen wajib dibingkai oleh akal sehat, norma agama, norma hukum, norma ilmu pengetahuan dan batas-batas kepatutan sosial.

 

Mengontrol Keberlebihan

Sentimen sehat adalah cara efektif untuk membuat diri tidak tertutup dan sekaligus tidak pula over acting. Sentimen yang bersifat melekat pada diri setiap orang, karena ia ada dalam perasaan harus dapat dikendalikan dengan nalar sehat dan obyektif.

Ada empat pola pikir (mindset) dan seterusnya dilanjutkan pada prilaku (behavior), dinampak pada gaya hidup (life style) yang hendaknya dipakai dalam menganalisis kasus yang terkait dengan diri, keluarga, korp dan institusi tempat bernaung, tak terkecuali kasus OTT yang aliran effeknya berarus keras dan kuat pada pribadi Mentri Agama dan lembaga Kementrian Agama.

1. Mereka Yang Diduga.

Mereka yang diduga dan terduga dalam kasus hukum, alam pikiran, sikap dan pergaulan kita dengan mereka biasa dan tidak baik menghakiminya sebelum ada keputusan hukum pengadilan.

Realitas OTT, dan effek yang mengikutinya hendaknya ditempatkan pada ruang hukum positif. Harus dimengerti bahwa kesalahan seseorang atau kelompok sebelum dinyatakan oleh Pengadilan, sesuai menurut hukum positif, berlaku padanya praduga tak bersalah. Dalam dunia pendidikan ada teori behavioristik, yang menyatakan lingkungan lebih besar membentuk sikap, prilaku dan tindakan orang. Dalam Islam dikatakan bahwa dosa seseorang tidak akan berpindah dan tidak menjadi tanggung jawab orang lain. Azaz kemandirian dan tanggung jawab personal perlu ditegaskan.

Siapa saja diminta untuk berhusnudzhan, dan meyakini bahwa aparat yang punya otoritas lebih paham apa yang harus dilakukannya, menunggu tindakkan itu lebih produktif untuk kuatnya sentimen sehat.

Mereka yang bersih dan berada dijalur kebenaran tidak perlu takut, karena pertanggung jawaban itu bukan kolektif, tapi siapa yang berbuat yang akan tanggung resiko. Kita harapkan yang terlanjur agar gentlemen dan siap menanggung resiko. Allah SWT berfirman:

???????????? ?????????? ????????? ?????????? ?????????????????? ??????????? ????? ????? ????? ????????????????????? ??????? ???????????? ????????? ?????????????????? ????? ???????? ????????????

"Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu; (karena) orang yang sesat itu tidak akan membahayakanmu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu semua akan kembali, kemudian Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan."

(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 105)

 

2. Mereka Yang Terpidana.

Terhadap mereka yang positif dan sudah ditetapkan pengadilan sebagai melanggar hukum, sehingga sudah dijatuhi hukuman, menjadi terpidana, maka menghargai kemanusiasnya tetap harus ditegakkan. Ketidaksukaan pada prilaku bejatnya, biar dirasakannya sendiri, dalam relasi kemanusiaan tidak boleh ada pengucilan, menyatakan ia jahat selamanya. Penegakkan hukum, effek jera, penyadaran, mengembalikan mereka pada fitrahnya melalui taubat adalah jalan kebaikan yang hendaknya dibentangkan pada semua orang yang telah kembali dari rumah prodeo, bebas dari rumah tahanan. Inilah spirit yang disebutkan dalam kitab suci. Allah SWT berfirman:

??????????? ?????????? ????????? ?????????? ????? ??????? ???????? ?????????????????? ????????? ???? ?????????? ???????? ????????????? ??????????????? ??????? ???????? ???? ????????? ???????????????????? ??? ??????? ??????? ?????????? ??? ????????? ????????? ??????????????????? ??????? ?????? ???????????? ??????????? ?????? ???????????? ????????? ?? ?????? ?????? ????????? ????????? ???????????????? ????? ????? ?????? ????????

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengannya; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka berkata, Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami; sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."

(QS. At-Tahrim 66: Ayat 8)

 

3. Mereka Bangga Kesalahan.

Mereka yang bangga dengan kesalahan mesti diberikan pembelajaran dan peringatan tegas, Allah SWT berfirman:

?????? ???????? ???? ??????????? ???????? ??? ?????????? ?????????? ?????????? ??????? ????? ??? ???? ????????????????? ??????? ???????? ??

"Dan di antara manusia ada yang pembicaraannya tentang kehidupan dunia mengagumkan engkau (Muhammad), dan dia bersaksi kepada Allah mengenai isi hatinya, padahal dia adalah penentang yang paling keras."(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 204).

Sistim hukum Islam bagi pendosa, lebih lagi mereka yang bangga dengan kesalahannya, melebihi dari hukum positif Indonesia. Ada qisas untuk pembunuh berencana. Ada potong tangan untuk pencuri, koruptor dan mereka yang melakukan penghilangan hak orang lain tanpa alasan syar'i.

Kesimpulan yang menjadi tugas kolektif semua stakeholder kemenag adalah menumbuhkan sentimen sehat. Membangun kepercayaan (trust public) pada lembaga, mencegah mereka yang suka berpikir simplistis, membersihkan pandangan umum bahwa semua salah. Meninggatkan " marah sama tikus, jangan lumbung yang di bakar". Selamat berjuang, Jum'at berkah. bahan khutbah Masjid Darul Ilmi Unand Padang. 22032019.



30 Tahun Lebih Tak Berfungsi, Stasiun Naras Diresmikan Menhub
  • 30 Tahun Lebih Tak Berfungsi, Stasiun Naras Diresmikan Menhub

    Jumat, | 18:35:06 | 285 Kali


  • Hadapi Pemilu 2019, Polres Padang Pariaman Gelar Apel
  • Hadapi Pemilu 2019, Polres Padang Pariaman Gelar Apel

    Jumat, | 18:14:41 | 321 Kali


  • 530 Linmas Amankan Pileg dan Pilpres 2019 di Kota Pariaman
  • 530 Linmas Amankan Pileg dan Pilpres 2019 di Kota Pariaman

    Jumat, | 07:47:03 | 224 Kali


  • Bupati Limapuluh Kota Canangkan Bulan Bhakti Dasawisma 2019
  • Bupati Limapuluh Kota Canangkan Bulan Bhakti Dasawisma 2019

    Jumat, | 07:41:04 | 253 Kali


  • Setiap Desa dan Kelurahan di Pariaman Miliki Penyuluh Agama Desa
  • Setiap Desa dan Kelurahan di Pariaman Miliki Penyuluh Agama Desa

    Jumat, | 07:51:20 | 221 Kali