Sandaran
Oleh: Ruchman Basori (Ketua PP GP Ansor dan Kasi Kemahasiswaan Ditjen Pendidikan Islam Kemenag RI)

Senin, 03 Jun 2019 | 11:08:04 WIB, Dilihat 271 Kali

Oleh ari

Sandaran

Baca Juga : Bulan Ramadlon, Mahasiswa Pascasarjana IAIN Tulungagung Gelar Pengabdian Masyarakat


Pengalaman menjadi guru terbaik bagi kita. Di setiap jengkal langkah ada pelajaran yang bisa diambil. Tentang hidup dan kehidupan, tentang kematian dan kepergian, tentang cinta dan kasih sayang dan tentang karir dan masa depan.

Pohon menjadi tempat sandaran paling nyaman ketika kita kelelahan di hutan. Kursi menjadi sandaran yang terbaik ketika kita ingin beristirahat sejenak, apalagi tempat tidur. Kedua orang tua kita, guru-guru kita yang bijak bestari dan orang-orang sholeh menjadi sandaran terindah bagi anak, murid dan kaum pencari kebenaran.

Sadar akan keterbatasan kita, kadang kita bersandar dan menggantungkan diri pada orang lain yang punya pengaruh, akses dan posisi strategis. Namun kadang kita juga keliru, ternyata tempat sandaran itu kurang bahkan tidak mengenal diri kita dengan baik. Padahal ekspektasi kita terlampau tinggi.

Darimana kita berasal, kapasitas apa yang kita punyai dan rekam jejak hidup kita kurang mampu dibaca dengan baik. Lagi-lagi tempat sandaran terbaik kita adalah diri kita sendiri. Orang beragama menyebutnya dengan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Sandaran menjadi keniscayaan dan sunnatullah, apalagi di dunia yang masih asing dan kita tak punya apa-apa dan tak punya siapa-siapa. Sandaran menjadi wasilah bagaimana kita berikhtiar lulus dalam kehidupan. Eksistensi dan cita-cita akan mudah tercapai jika kita mampu memilih sandaran terbaik dan jangan keliru baca.

Kita tidak boleh ge er atau merasa telah melakukan banyak hal. Karena lagi-lagi banyak rahasia kehidupan, yang tidak mampu kita tangkap sebagai sinyal. Kadang diri ini merasa bodoh antara politik yang berkelindan, antara prestasi dan unjuk gigi, antara aksi dan nasi dan antara jenang dan jeneng (bahasa Jawa). Itulah pentingnya belajar dari lika-liku hidup.

Puasa ramadlon menjadi tempat sandaran terbaik bagi hamba yang merasa berlumur dosa. Tidak pangkat, tidak derajat bercengkerama dengan Yang Maha Kuasa. Puasa sebagai tazkiyatun nafs agar kita mampu menggapai ridlonya. Marilah kita bersandar pada orang atau sesuatu yang tepat. Ini mudah diucapkan tetapi sulit dilakukan bukan? Wallahu a'lam bi al-shawab. Brebes, 2 Juni 2019
 



Bulan Ramadlon, Mahasiswa Pascasarjana IAIN Tulungagung Gelar Pengabdian Masyarakat
  • Bulan Ramadlon, Mahasiswa Pascasarjana IAIN Tulungagung Gelar Pengabdian Masyarakat

    Minggu, | 13:42:16 | 205 Kali


  • Yenny Wahid, Ani Yudhoyono Ibu Negara yang Tanggap Media Sosial
  • Yenny Wahid, Ani Yudhoyono Ibu Negara yang Tanggap Media Sosial

    Minggu, | 08:03:17 | 170 Kali


  • Komunitas Art Patamuan Gelar Malam Takbiran
  • Komunitas Art Patamuan Gelar Malam Takbiran

    Minggu, | 07:58:20 | 150 Kali


  • Peringati Hari Lahir Pancasila, Jajaran Pemko Pariaman Tanam Mangrove
  • Peringati Hari Lahir Pancasila, Jajaran Pemko Pariaman Tanam Mangrove

    Minggu, | 07:52:06 | 171 Kali


  • Wako Pariaman Salurkan Zakat ASN pada 207 Mustahik
  • Wako Pariaman Salurkan Zakat ASN pada 207 Mustahik

    Minggu, | 07:42:35 | 147 Kali