Nikmatnya Shalat Berjamaah
Oleh : Mustari, M.Pd (Guru MTsN 6 Padang Alai Padang Pariaman)

Jumat, 26 Mar 2021 | 04:25:07 WIB, Dilihat 683 Kali

Oleh ari

Nikmatnya Shalat Berjamaah

Baca Juga : PMII Padang Galang Dana Untuk Korban Gempa Aceh


Menurut A.Hasan, Bigha, Muhammad bin Qasim Asy-Syafi’i dan Rasjid shalat menurut bahasa berarti berdo’a. Ditambahkan oleh Asy-Syidieqy shalat dalam bahasa Arab berarti doa memohon kebajikan  dan pujian. Sedangkan secara hakekat mengandung pengertian berhadap jiwa (hati) kepada Allah SWT dan mendatangkan takut kepada-Nya, serta menumbuhkan di dalam jiwa rasa keagungan, kebesaran dan kesempurnaan kekuasaan-Nya.

Secara dimensi fiqih, shalat adalah beberapa ucapan atau rangkaian ucapan dan perbuatan (gerakan) yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam, yang dengannya kita beribadah kepada Allah SWT dan menurut syarat-syarat yang telah di tentukan oleh agama. Shalat dapat diselenggarakan sendirian maupun berjama’ah. Namun, shalat berjama’ah lebih afdhal, karena didalamnya terdapat ukhuwah dan semangat beribadah.

Jamaah berarti “berkelompok”, “bersama-sama”, “mainstream umum” atau “dilakukan oleh banyak orang”. Sehingga hal ini mengacu pada konsep kebersamaan umat Islam dalam berbagai persoalan kehidupan bermasyarakat. Jadi shalat jamaah adalah shalat yang dikerjakan secara bersama-sama dibawah pimpinan imam. Dalam shalat jamaah ada dua unsur dimana salah satu diantara mareka sebagai pemimpin yang disebut dengan imam, sementara unsur yang kedua adalah mereka yang mengikutinya yang disebut dengan ma’mum. Maka apabila dua orang shalat bersama-sama dan salah seoarang dari mereka mengikuti yang lain, maka keduanya disebut melakukan shalat berjamaah.

Hukum shalat fardhu berjamaah setidaknya ada tiga macam. Para ulama mazhab Malikiyah dan Hanafiyah menghukumi shalat berjamaah sebagai sunnah muakad bagi laki-laki yang mampu melaksanakan dan tidak memiliki halangan/udzur. Sedangkan pada ulama mazhab Syafi’iyah menghukumi dengan fardhu kifayah. Hukum ini dikenakan pada laki-laki yang berakal, merdeka, mukim (bertempat tinggal tetap atau bukan musafir) dan tidak mempunyai halangan untuk mengerjakan shalat berjamaah. Adapun para ulama mazhab Hanabilah menghukumi dengn fardhu ‘ain.

Dasar hukum shalat berjamaah adalah:

1)      Allah memerintahkan untuk melaksanakan shalat secara berjamaah, sesuai dengan firmanNya :

“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu.” (Q.S. An- Nisa/4: 102).

2) Hadist tentang anjuran melaksanakan shalat berjamaah.

Yahya menyampaikan kepadaku dari Malik, dari Nafi’, dari Abdullah bin Umar:

Bahwa sungguh Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam telah bersabda: "Sholat berjamaah itu lebih utama dari pada shalat sendirian sebanyak dua puluh tujuh derajat.”

Pada hakikatnya, Islam bukanlah agama individu yang hanya memikirkan hubungan secara pribadi dengan Allah SWT semata tanpa memikirkan kehidupan sosial di sekelilingnya. Namun, Islam merupakan agama kesatupaduan jamaah dalam umat yang satu,  bertanah air satu, dan berkiblat satu, bahkan berjasad satu. Sesungguhnya Islam itu menganjurkan kepada umatnya untuk saling mengenal (ta’aruf), saling memahami (tafahum), saling membantu (ta’awun ), dan saling melengkapi kekurangan masing-masing (tafakul) sesama mereka. Untuk mengimplementasikan nilai-nilai diatas, shalat berjamaah dapat dijadikan salah satu rujukan bagi umat Islam.

Bila diperinci lebih dalam, maka banyak hikmah yang terkandung di balik shalat berjamaah yaitu:

A.      Persatuan umat. Allah SWT menginginkan umat Islam menjadi umat yang satu, sebab Tuhanya satu, syari’at satu, dan tujuanya satu. Dalam hal ini Allah SWT. Berfirman:  Artinya: “Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku”.(Q.S. Al-Anbiya': 92).

Ayat di atas menjelaskan bahwa, Allah SWT mensyari’atkan untuk hamba-hamba-Nya sesuatu yang satu itu. Dia mensyari’atkan shalat berjamaah sehari semalam lima kali. Umat Islam berkumpul di masjid dan bertemu lima kali sehari tidak diragukan lagi bila hal ini dilakukan secara terus-menerus maka ikatan persatuan tersebut akan lebih terlihat. Imam Ridha yang dikutip oleh Anshari menyatakan bahwa: “Tiada keiklasan, tauhid, Islam, dan ibadah kepada Allah SWT kecuali semuanya itu dapat dilihat, diselenggarakan secara terbuka dan terang-terangan dan agar bisa menjadi bukti di barat dan timur akan eksistensi Allah SWT. Supaya orang-orang dapat melihat seperti apa Islam dan apa yang ada di dalam nya sehingga bisa saling mengenal satu sama lain.” Shalat berjamaah adalah pemaklumat kekuatan Umat Islam dan bukti atas berpegang teguhnya mereka kepada tali agama Allah SWT, kuatnya persatuan mereka dan lenyapnya perpecahan dan perselisihan diantara mereka.

B. Persamaan dalam sudut pandang sosisal, umat Islam berbeda-beda tingkatan dan kedudukanya. Ada di antara mereka yang berilmu, bodoh, kaya, fakir, kuat, lemah,  pemimpin maupun rakyat. Namun Allah SWT menciptakan manusia sama. Tidak ada kelebihan orang arab atas orang ajam (non-Arab) kecuali dengan takwa. Perbedaan yang ada dalam dunia manusia itu hanyalah salah satu sunatullah pada makhlukNya. Rasa persamaan dapat tumbuh dalam shalat berjamaah. Para makmum berderet, bershaf-shaf, yang berpangkat, rakyat biasa, yang kaya, yang miskin, yang keturunan raja maupun rakyat kebanyakan. Semuanya berbaris-baris, berbaur satu shaf dan yang datang lebih dulu menempati shaf yang paling depan meskipun ia rakyat jelata dan yang datang kemudian menempati shaf belakang meskipun seorang raja atau presiden. Di dalam masjid tidak ada protokoler, shaf yang depan tidak harus untuk orang-orang besar, tetapi untuk siapa saja yang datang lebih dulu.

c.  Kebebasan rasa. Kebebasan dapat terlatih dalam shalat berjamaah karena dalam mengerjakan shalat itu secara kolektif anggota jamaah merasa bebas shalat di masjid, bebas dari tradisi-tradisi yang berlawanan dengan ajaran ibadah, pujian-pujian hanya dapat dilakukan kepada Allah SWT saja. Kebebasan hati nurani adalah puncak kebebasan yang dimiliki oleh manusia. Kebebasan kontrol dimiliki anggota jamaah, apabila imam melakukan kesalahan, baik mengenai bilangan rakaat, bacaan dan lain sebagainya. Makmum atau jamaah mempunyai hak kontrol terhadap kekhilafan imam. Di satu sisi jamaah bisa melatih untuk taat kepada imam atau pemimmpin, namum di sisi lain ketaatan tersebut tetap memberi peran bagi makmum untuk mengingatkan imam, karena seperti apapun imam, imam hanyalah manusia biasa yang tidak luput dari salah dan lupa.

d.  Mensyiarkan syi?ar Islam.

          Allah mensyari?atkan shalat di masjid melalui firman-nya : Artinya: “Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah SWT ialah orang-orang yang beriman kepada Allah SWT dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah SWT, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. At-Taubah: 18).

Berdasarkan ayat di atas, shalat berjamaah di masjid, berkumpulnya umat Islam di dalamnya, masuk keluarganya mereka dari masjid secara bersama-sama dan sebelum itu adanya pengumandangan adzan di tengah-tengah mereka. Semua itu adalah pemakluman dari umat akan penegakan syi?ar Allah SWT di muka bumi.

e.  Merealisasikan penghambaan kepada Allah SWT

Allah SWT menciptakan manusia, menjadikanya khalifah di muka bumi dan menyuruh manusia untuk beribadah dan menaati-Nya. Saat muadzin mengumandangkan adzan dan mengeraskan Allahu Akbar, lalu seorang muslim mengiyakan panggilan pencipta-Nya, meninggalkan semua kehidupan dunia kesenangan dan daya tariknya, pergi untuk menunaikan shalat berjamaah, maka itulah bukti atas penghambaan seorang manusia kepada Tuhan bumi dan langit.

f.  Memantau keadaan umat Islam dan merealisasikan ukuwah Islamiyah seorang muslim tidak mungkin hidup dengan mengisolasi diri dari saudara-saudaranya. Dengan melalui shalat berjamaah setiap hari pertemuan antara umat muslim dapat terjaga. Dengan mengerjakan shalat berjamaah di masjid seorang muslim dapat mengucapkan salam pada saudaranya sesama muslim, mengetahui keadaan saudaranya itu, jika ada salah satu saudara sesama muslim yang tidak datang untuk berjamaah, ia langsung mengetahui bahwa suatu hal telah menimpa saudaranya itu, ia dapat menanyakan pada orang lain, lalu menjenguknya bila ia sakit atau membantunya dengan suatu pertolongan sesuai dengan kebutuhan bila memerlukan. ***



PMII Padang Galang Dana Untuk Korban Gempa Aceh
  • PMII Padang Galang Dana Untuk Korban Gempa Aceh

    , | 11:45:52 | 42641 Kali


  • Dua Kapolsek di Padangpariaman Diserahterimakan
  • Dua Kapolsek di Padangpariaman Diserahterimakan

    , | 08:59:15 | 42641 Kali


  • Desa Batang Kabung Tetapkan APBDes 2017
  • Desa Batang Kabung Tetapkan APBDes 2017

    , | 16:36:59 | 42641 Kali


  • Pemko Pariaman Jamin Kesehatan Masyarakat Melalui  JKSS
  • Pemko Pariaman Jamin Kesehatan Masyarakat Melalui JKSS

    , | 16:30:45 | 42641 Kali


  • PKL & Susbalan, Siapkan Kader Ansor Ideologis Islam Aswaja
  • PKL & Susbalan, Siapkan Kader Ansor Ideologis Islam Aswaja

    , | 16:25:52 | 42641 Kali