Menjaga Lisan
Oleh: armaidi tanjung

Senin, 18 Sep 2017 | 07:59:17 WIB, Dilihat 721 Kali

Oleh Armaidi

Menjaga Lisan

Baca Juga : Pembina Mahatma Indonesia: Islam Ajarkan Berbuat Baik dan Berbakti pada Ibu


Mulutmu, harimaumu. Demikian pepatah mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam berbicara, menggunakan mulut menyampaikan sesuatu. Mulut sebagai alat komunikasi bagi manusia merupakan anugerah terbesar yang diberikan oleh Allah Swt kepada makhluknya. Bisa dibayangkan, jika seseorang yang tidak memiliki mulut untuk berbicara, pasti mengalamai hambatan dalam berkomunikasi dalam menjalani kehidupannya.

 

Bersama dengan   seluruh anggota badan manusia lainnya, seperti telinga, mata, hidung, telinga, tangan, kaki,  dan organ-organ luar, dalam dan sel-sel yang tak terhitung jumlahnya, merupakan ciptaan Allah yang amat sempurna. Semua itu adalah nikmat besar,  yang tak mungkin bisa dibalas secara sepadan, kecuali sekadar mensyukurinya. Cara mensyukuri bisa melalui kata-kata,  perbuatan maupun dalam hati (jiwa). Bersyukur lewat perkataan bisa dilakukan dengan mengucapkan hamdalah atau kalimat puji-pujian lainnya; sementara bersyukur lewat tindakan akan tercermin dari kualitas perbuatan: apakah sudah baik, bermanfaat, atau sebaliknya? Bersyukur dengan hati, bagaimana selalu berbaik sangka kepada Allah Swt terhadap apa yang ditakdir kepada kita.


Khusus terkait dengan mulut yang melahirkan lisan, merupakan perangkat  tubuh manusia yang bisa menimbulkan manfaat, namun sekaligus mudarat yang besar bila tak benar penggunaanya. Lisan yang tidak tepat dan benar penggunaannya, akan membawa malapetaka bagi siempunya. Sebaliknya, penggunaan yang tepat dan benar akan membawa kemaslahatan bagi si empunya.

 

Selain pepatah di atas, ada pula  pepatah Arab mengatakan, salâmatul insane fî hifdhil lisân (keselamatan seseorang tergantung pada lisannya). Artinya, melalui kata-kata, lisan, seseorang bisa menolong orang lain. Sebaliknya, dari lisan  pula seseorang bisa menimbulkan kerugian  bagi dirinya sendiri maupun  bagi orang lain.

Bahkan Islam  hanya memberi dua pilihan terkait fungsi lisan. Digunakan untuk berkata yang baik atau diam saja.  “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (H.R. Imam Bukhari).

Dari hadits tersebut, Rasulullah mendahuluinya dengan mengungkapkan keimanan sebelum memperingatkan tentang bagaimana sebaiknya lisan digunakan. Keimanan adalah hal mendasar bagi umat Islam (iman pada Allah dan hari akhir). Hal ini menunjukkan bahwa urusan lisan bukan urusan main-main. Hadits tersebut bisa juga dipahami sebaliknya, yakni  bahwa orang-orang tak bisa berkata baik maka patut dipertanyakan kualitas keimanannya kepada Allah dan hari akhir. Artinya, menjaga lisan  ternyata berkaitan dengan teologi.

Pertanyaannya, kenapa menjaga lisan dihubungkan dengan keimanan kepada Allah dan hari akhirat? Karena, memang segala ucapan yang dikeluarkan manusia sejatinya selalu dalam pengawasan Allah. Ucapan lisan itu  mengandung pertanggungjawaban, bukan hanya di dunia melainkan di akhirat pula. Orang yang berbicara sembrono, tanpa mempertimbangkan dampak buruknya, mengindikasikan pengabaian terhadap keyakinan bahwa Allah selalu hadir menyaksikan apa yang dilakukannya/dibicarakan. Apa yang diucapkan lisan, kelak di hari akhirat diminta pertanggungjawabannya. Allah pun mengutus malaikat khusus untuk mengawasi setiap ucapan. "Tak ada suatu kalimat pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (Q.S. Qaf :18)

Sesuai dengan tuntutan perkembangan teknologi informasi, lisan tidak hanya melalui mulut. Di zaman modern ini, ucapan atau ujaran tak semata muncul dari mulut. Tapi kini beralih ke media sosial, yakni status di facebook, cuitan di twitter, meme di instagram, watshap (WA) dan lain sebagainya. Media sosial juga menjadi ajang ramai-ramai berbuat ghibah, fitnah, tebar kebohongan, provokasi kebencian, bahkan sampai ancaman fisik yang membahayakan. Makna lisan pun meluas, mencakup pula perangkat-perangkat di dunia maya yang secara nyata juga mewakili lisan kita. Dampak yang ditimbulkannya pun sama, mulai dari adu domba, tercorengnya martabat orang lain, sampai bisa perang saudara. Bahkan melalui dunia maya ini, dampaknya bisa jauh lebih dahsyat karena “didengar” oleh orang yang tidak tampak dan tanpa batas.

Oleh sebab itu,  sudah seyogiannya hati-hati berucap atau menulis sesuatu di media sosial. Berpikir dan ber-tabayyun (klarifikasi) menjadi sikap yang wajib dilakukan untuk menjamin bahwa apa yang kita lakukan bernilai maslahat, atau sekurang-kurangnya tidak menimbulkan mudarat. Sekali lagi, ingatlah bahwa Allah mengutus malaikat khusus untuk mengawasi ucapan kita, baik hasil lisan  maupun ketikan jari-jari  di media sosial.

 

Termasuk yang gemar men-share status, web, comment, dan informasi lain yang tidak jelas sumbernya. Boleh jadi menurut anggapan kita apa yang disampaikan hanya sekedar informasi, atau mengandung kebenaran, namun siapa yang bisa menjamin informasi yang akan kita share tersebut benar dan tidak menyinggung pihak lain. Mohon maaf, jangan kita tergoda dengan tampilan akunnya, nama web-nya, fotonya, apalagi yang ada nuansa agamanya (Islam), seolah-olah benar apa  yang disampaikannya. Dalam catatan Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT), ribuan situs-situs radikal yang mengajak/mengajarkan tindakan radikalisme dan kekerasan. Sekalipun  situs tersebut bernuansa agama, akan tetapi kontennya tidak sejalan dengan nilai-nilai Islam. Malah bertentangan dengan nilai-nilai Islam itu sendiri. 

 

Bayangkan, hanya gara-gara lisan (ucapan) Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) saat berkunjung ke pulau Seribu yang menjabat Gubernur DKI Jakarta mampu menyedot perhatian bangsa Indonesia paling menggemparkan beberapa bulan belakangan ini. Sejak diunggah di media sosial, hingga memasuki persidangan di pengadilan, mampu mendatangkan umat Islam jutaan orang ke Jakarta dan berbagai aksi berikutnya. Setelah palu hakim diketok menjatuhi hukuman, kembali menyedot perhatian publik yang pro dan kontra. Bahkan keputusan pengadilan terhadap dirinya pun mendapat sorotan dari negeri nun jauh di sana, misalnya parlemen Belanda.

 

Terlepas dari sudut pandang yang mana hingga bola panas ini terus menggelinding, yang pasti peran lisan berikutnya amat menentukan. Buntut berikutnya, tidak hanya lisan Ahok, tapi lisan-lisan berikutnya juga turut andil menebarkan kegaduhan yang semakin panas.

 

Bayangkan, jika kita menyebarkan kebaikan dengan lisan kepada seseorang, kemudian orang tersebut menyebarkan lagi pada yang lain, dalam bahasa agama kita akan mendapatkan pahala dari apa yang disebarkan oleh orang tersebut. Sekalipun kita tidak lagi ikut menyebarkan kebaikan tersebut, tapi karena bersumber dari kita, maka kita dapat pahala. Sebaliknya, jika menyebarkan lisan kebohongan, fitnah dan kebencian, melalui media sosial, kemudian di-share oleh orang lain, dari orang lain tersebut juga dishare pula, maka tentu kita juga akan kebagian “dosa” dari orang lain yang sudah menyebarkan lisan kebohongan, fitnah dan kebencian yang berasal dari status kita. Bayangkan, kalau lisan kebohongan, fitnah dan kebencian terus beranak pinak di-share oleh orang lain.

 

Kalau memang punya banyak waktu bermain status di media sosial, kenapa tidak men-share ajaran-ajaran agama yang bersumber dari al-Qur’an, hadist Nabi, perjuangan Nabi, sahabat Nabi, para ulama yang diakui, atau tokoh-tokoh yang bersumber dari buku-buku terpercaya. Kisah-kisah yang memberikan inspirasi untuk pencerahan diri. Mudah-mudahan yang membacanya dapat memetik hikmah dan makna dari apa yang di-share-kan. Semoga. (sudah dimuat di Majalah Tabuik, edisi 31/triwulan II/2017)



Pembina Mahatma Indonesia: Islam Ajarkan Berbuat Baik dan Berbakti  pada Ibu
  • Pembina Mahatma Indonesia: Islam Ajarkan Berbuat Baik dan Berbakti pada Ibu

    Senin, | 07:37:06 | 442 Kali


  • HUT PMI ke-72, Dimeriahkan Latgab PMR se-Kota Pariaman
  • HUT PMI ke-72, Dimeriahkan Latgab PMR se-Kota Pariaman

    Senin, | 07:28:37 | 388 Kali


  • Kadinkes Targetkan Akhir 2017 Padang Pariaman Bebas Pemasungan Penderita Gangguan Jiwa
  • Kadinkes Targetkan Akhir 2017 Padang Pariaman Bebas Pemasungan Penderita Gangguan Jiwa

    Senin, | 07:18:19 | 491 Kali


  • Civitas Akademika UIN IB Kunjungi Kawasan Tarok
  • Civitas Akademika UIN IB Kunjungi Kawasan Tarok

    Minggu, | 19:22:39 | 581 Kali


  • 1.021 Peserta Ikuti Pariaman Run 10K Umum dan 5K Pelajar
  • 1.021 Peserta Ikuti Pariaman Run 10K Umum dan 5K Pelajar

    Minggu, | 19:07:58 | 412 Kali