Mengagas Gerakan Tuanku Cendikiawan
Oleh:Prof.Dr.H.Duski Samad, M.Ag Tuanku Mudo

Sabtu, 09 Mar 2019 | 08:02:32 WIB, Dilihat 304 Kali

Oleh ari

Mengagas Gerakan Tuanku Cendikiawan

Baca Juga : DSP3A Padang Pariamn Verifikasi Basis Data Terpadu Penerima Bantuan Pemerintah


                                                                    

  1. PENDAHULUAN

Gagasan Gerakan Tuanku Cendikiawan ini bermula dalam satu diskusi informal mencermati meningkatkan secara signifikan jumlah tokoh agama kaum tradisional yang bergelar Tuanku, sejak awal 21 ini, mengalami transformasi yang luar biasa dalam hal pilihan pendidikan, sikap politik dan dinamika sosial keumatan yang dijalaninya. Tuanku yang aslinya pendidikan keagamaanya bersifat non formal, pendidikan sistim surau, berhalakah, mengaji kitab, tidak memiliki ijazah negeri, saat mengaji dipanggil dengan  Pakiah¸Urang Siak, pakaian sering bersarung dan berkopiah, lalu kini dalam jumlah cukup banyak menambah pendidikan dengan melanjutkan ke Perguruan Tinggi Islam dan Perguruan Tinggi Umum. Kini, di antara Tuanku sudah ada yang bergelar Sarjana, Magister, Doktor dan bahkan sudah ada yang bergelar Professor,  dapat dikatakan mereka bergerak menjadi cendikiawan.  

 

Tuanku Cendikiawan yang mulai mengisi ruang keumatan adalah langkah maju dan kekuatan untuk percepatan kemajuan dan pencerahan umat. Tantangan era digital yang menghadang generasi milinial, dan era industri 4.0 memerlukan tokoh agama yang dapat menjelaskan nilai mengunakan pendekatan tekhnologi digital. Tuanku Cendikiawan yang sudah mendapat nilai tambah keilmuan moderen pada pendidikan tinggi, tentu potensial untuk menjadi pengerak kemajuan umat. Pemaduan ilmu-ilmu agama dengan sains dan teknologi adalah kehendak zaman yang tak mungkin di tolak.

 

Tuanku yang dalam memori dan pemahaman masyarakat adalah ulama yang kesehariannya melayani umat dalam berdakwah, menyelenggarakan urusan kematian, mengimami shalat berjamaah, dan tugas keagamaan lainnya, kini mulai berubah, disamping peningkatan pendidikan tingginya,  mereka juga melakukan inovasi dakwah, pendidikan, gerakan keumatan, yang menonjol misalnya dapat dilihat pada usaha melalui pengurusan travel haji, umrah dan mempromisikan jamaah berziarah bersama ke Ulakan, Banda Aceh, bahkan ada yang ziarah bersama ke Makam wali di Pulau Jawa.

 

Hebatnya lagi Tuanku yang dulunya tidak tertarik menjadi Pengawai Negeri, bekerja di Pemerintah, justru kini sudah banyak Tuanku yang menjadi ASN, menjadi penyuluh agama, menjadi guru agama, guru pengetahuan umum, menjadi dosen, pengusaha, milter, polisi dan jabatan di pemerintah, swasta adalah perubahan yang patut diberikan apresiasi dan diyakini akan bermanfaat besar bila mereka ini dapat dimaksimalkan perannya untuk meningkatkan kualitas keagamaan dan kemajuan umat.

 

Kenyataan ada perubahan pola pikir, gerakan cendikiawan dan gerakan usaha yang dimotori oleh Tuanku Cendikiawan adalah asset umat untuk mempercepat kemajuan dan kesejahteraan bangsa. Besar jumlah dan menguatnya peran Tuanku Cendikiawan menjadi harapan untuk mengembalikan ghirah, marwah dan masa depan kehidupan beragama yang lebih baik, berkemajuan dan tentu pula dapat berkontribusi besar bagi kemajuan bangsa. Islam yang sudah bertapak kuat di daerah mana Tuanku berasal, Ulakan Pariaman,sesuai adigium adat syarak mandaki adat manurun, dalam kenyataannya terus mengalami penipisan dan cendrung tanpak hanya pada simbol dan budaya.

 

  1. MAINDSET TUANKU CENDIKIAWAN 

Maindset yang dimaksudkan adalah pola pikir dan cara pandang orang terhadap dirinya dan orang lain melihat dirinya. Harus diakui bahwa gelar Tuanku cukup melekat dalam memori umat dikarenakan keberadaannya yang menentukan denyut keagamaan umat. Tuanku yang aslinya dipakaikan sebagai gelar kehormatan terhadap alumni surau yang menyelenggarakan pengajian kitab dengan halakah dan sudah mencapai taraf yang dipersyaratkan oleh ulama tempat ia belajar. Dalam masyarakat Minang, kedudukan Tuanku sebagai tokoh agama kuat dan strategis karena ia sekaligus adalah menjadi referensi umat. Tuanku juga menjadi pelaksana kegiatan keumatan sebagai pendidik umat, dai, khatib, mubaligh dan juga pengerak umat dalam artian lebih luas. Tuanku juga memiliki keterkaitan dengan sistim sosial, khususnya dalam hubungan dengan Tuanku sebagai keyperson (orang penting) yakni alim ulama dalam kaum, suku, dan nagari.

 

Dalam artian mudah dapat dikatakan bahwa Tuanku adalah sosok tokoh agama kharismatik yang sudah diterima dilingkungannya dan memiliki kapasitas ilmu dan keterampilan agama memadai. Oleh karenanya Tuanku adalah factor perubahan penting untuk meningkatkan kualitas umat. Sedangkan kata cendikiawan lazimnya dipasangkan pada orang yang lebih menonjol dalam mendayagunakan akal cerdas, menyelesaikan masalah dengan akal sehat, memberi solusi dengan kearifan, keilmuan, dan salah satu indikator paling mudah menentukannya adalah level dan lama pendidikan yang ditempuh. Sarjana strata satu (S1), strata dua, (S2) dan Strata tiga (S3) Doktor lazim pula dapat menjadi tolak ukur kecendikiwanan.

 

Kecendikiawan dalam realita di masyarakat sering dimaknai sebagai orang cerdas, rasional, berpikiran maju, moderen, dan futuristik (mampu membuat prediksi ke depan), dan ciri kemajuan lainnya, itu semua adalah pengakuan yang sudah melekat bagi mereka yang disebut cendikiawan. Oleh karena secara simpel dapat dikatakan bahwa cendikiawan adalah mereka yang dipercaya ilmunya, kuat nakarnya dan teguh kepribadiannya.

 

Cakupan konsep yang diminta dari Tuanku Cendikiawan adalah memberikan ide-ide cerdas dalam mengembangkan dirinya, masyarakat lingkungan, bangsa dan umat Islam. Lebih luas lagi, Tuanku cendikiawan dengan status sosial yang melekat dengan adat Minangkabau (kearifan lokal), kedudukannya sebagai tokoh umat (ulama), pengakuan institusi dengan kampotensi keilmuan Sarjana S1, S2, dan S4 (akademisi), dan ketrampilan praktis sebagai pengerak umat adalah potensi hebat dan luar biasa yang perlu wadah penyalurnya.

                  
C. SITUASI SOSIAL DAN PRILAKU BERAGAMA UMAT.

Perubahan sekecil apapun dimulai dari memahami situasi sosial dan prilaku beragama umat, bangsa dan rakyat. Umat, bangsa dan rakyat tiga istilah dalam makna yang tidak sama. Bedanya konsep umat berkonotasi muslim, bangsa menunjukkan kebangsaan dan, rakyat mengandung pesan warga negara yang telah memenuhi persyaratan sebagai penduduk negeri yang sah. Dalam pergerakan waktu ketiga konsep di atas tengah dihadapkan pada situasi sepertinya kehilangan arah dan masa depan, khususnya berkaitan dengan peran agama, nilai dan kesantunan sosial.      

Beberapa data menyatakan bahwa di negeri Adat Basandi Syarak, Syarak Bansandi Kitabullah, Minangkabau, Sumatera Barat, kasat mata mudah menemukannya terus menerus mengalami krisis akhlak yan berbahaya dan kehilangan rasa malu. Sebagai contoh dapat disimak dan berita Padang TV mewartakan Selasa, 5 Maret 2019 bahwa anak SD dan SMP di Pariaman melakukan perbuatan tercela, LGBT. BPS juga melansir Rabu, 6 Maret 2019, Sumatera Barat tertinggi kejahatan moralitas, di atas 300 kasus dalam setahun. Begitu juga dapat dengan mudah membaca berita amoral, perzinaan dan kekerasan setiap hari di harian Post Metro Padang.

 

Pergeseran nilai agama, budaya dan adat istiadat di tengah pengaruh kehidupan serba terbuka, tersambung dan menduanya adalah rahmat dan sekaligus menjadi sumber bencana bagi ketahanan nilai, moral sipritual umat. Mengembangkan kebaikan internet adalah tekhnologi membawa manfaat. Membiarkan anak bangsa menyalahgunakan internet yang murah dan luasnya jaringan, sehingga merusak masa depan mereka adalah berdosa dan itu berarti pembiaran atas kerusakan.

 

Deretan panjang catatan prilaku menyimpang anak muda, seperti tawuran pelajar, kenakalan di jalanan, terlibat narkoba, mengunduh dan menonton vidio porno, bolos sekolah, geng motor dan perbuatan merusak masa depan mereka sendiri adalah musibah massal yang harus segera dilakukan pencegahan (mitigasi), perbaikan bagi yang terpapar (recovery), dan memulihkan citra diri mereka.

 

Dikalangan orang dewasa dan orang tua tengah pula terjadi kemerosatan moral yang dahsyat. Surau dan Masjid yang banyak dan bagus secara fisik, namun kegiatan sepi dan tidak menarik untuk dikunjungi umat, tak terkecuali kaum tua sekalipun. Shalat jamaah lima waktu hanya hitungan jari, tidak sedikit pula masjid yang digembok saat shalat jamaah. Shalat jum'at saja belum maksimal dikunjungi umat, dalam kasus di beberapa nagari shalat Jum'at bubar karena ketiadaan khatib.

 

Adalah dosa sejarah bagi generasi cerdas, terdidik, dan cendikiawan hari ini bila kondisi keagamaan, sosial, budaya dan kemasyarakat yang sudah parah dan kehilangan moralitas ini tidak mendapat perhatian untuk perbaikannya secara sistimatis, terencana dan berkelanjutan. Di antara tokoh umat yang besar tanggung jawabnya adalah pemuka agama. di Minangkabau sebutan khusus yang teruju kepada pemuka agama Islam adalah Tuanku. Tuanku jabatan keagamaan yang diberikan oleh pimpinan surau yang mengajarkan kitab klasik berbahasa arabh dengan pola halakah dan dikukuhkan oleh ninik mamak suku atau nagari dimana Tuanku berasal. 

 

Menghadapi situasi terkini, Tuanku Cendikiawan diminta agar berperan penting dalam menganalisis, menemukan solusi, lalu melakukan gerakan untuk mencegah menurun nilai-nilai agama dilakukan umat, mengatasi kemorosatan moral, dan melakukan aktivitas yang membangun kesadaran kolektif untuk kebaikan agama dan bangsa. Tuanku Cendikiawan dengan modal ilmu agamanya dapat memberikan pencerahan sipritual, moral dan ketaatan beragama, dan dalam kapasitasnya sebagai cendikiawan (sarjana), ia diharapkan dapat menjadi role model bagi lingkungannya, dan sekaligus tentu dengan cerdas dapat mendampingi (advokasi) umat untuk meningkatkan kualitas hidup, kesejahteraan keluarga dan menjadi penerjemah kemajuan bagi umat dan bangsa.

 

  1. TUANKU CENDIKIAWAN “IMAM PERUBAHAN”

Hambatan yang cukup berat dalam menghadapi perubahan pola pikir dan etos kerja adalah kejumudan, dan zona nyaman yang membelenggu mereka yang malas berfikir. Status quo, taqlid dan sikap tidak cukup kuat mengunakan akal sehat adalah tantangan yang akan dihadapi oleh Tuanku Cendikiawan. Berpikir terbatas, dan lebih mempertahankan pengaruh, sulit berdialog terbuka, dan stretotipe memandang orang yang berbeda pemahaman sebagai musuh adalah cara-cara berfikir menjadi penghambat bagi gerakan Tuanku Cendikiawan. Harus diakui, pola pikir status quo, sulit melakukan perubahan, walau itu sudah diyakini tidak tepat, atau hanya masalah pemahamannya saja, masih banyak melekat dikalangan Tuanku.

 

Sejarah menyebutkan bahwa perubahan sebagai keniscayaan untuk kemajuan berjalan lambat di daerah “Kekuasaan Tuanku”, Ulakan Pariaman dan daerah lain yang memiliki jaringan paham keagamaan dengan Syekh Burhanuddin Ulakan, jamaah tarekat Syathariyah. Daerah Ulakan Pariaman, dalam gerakan pembaharuan Islam sejak masa Paderi akhir abad ke 19 (1825-1830), dilanjutkan dengan Kaum Tuo, (kaum tradisonal) Kaum Mudo, (kaum modernis) awal abad 20, sebagai tongak kemajuan Islam, adat dan budaya sehingga membentuk generasi Minang yang kokoh tidak bergitu kuat sentuhan dan dinamikanya dalam pembaharuan purifikasi, tajdid, dan pendidikan Islam, sebagaimana di daerah darek pusat alam Minangkabau.

 

Era abad 21, sejalan dengan perubahan pandangan hidup bernegara yang bebas, demokratis dan otonomi, diperkuat pula dengan capaian tekhnologi digital, langsung atau tidak nyatanya membawa pergeseran luar biasa dalam semua bidang kehidupan. Dalam paham, pengamalan dan pola beragama kalah bersaing dengan kemajuan berfikir dan berbudaya. Pola berfikir status quo, taklid dan mempertahankan pengamalan agama fanatik guru adalah hambatan psikologis menjadi beragama tidak menarik bagi kalangan muda, lebih lagi generasi milinial yang praktis dan factual. Tuanku Cendikiawan pada kondisi seperti sekarang diharapkan dapat menjadi “imam perubahan”, dan menjadi pendamping kaum milinial, serta menjadi pencerah lebih luas. 

 

Tuanku Cendikiawan juga diprediksi dapat menjembatani dialog dengan Tuanku yang masih orentasinya pada tokoh tua yang sulit diajak berdiskusi, berpijak pada pola pikir tertutup, mengklaim pendapat guru tempat belajarnya dulu sebagai kebenaran tunggal, itulah yang terbaik dan boleh dikritisi, bersikukuh dengan simbol agama dan tokoh tertentu. Tuanku Cendikiawan juga dapat dihandalkan untuk melakukan improvisasi, kreasi dan inovasi dakwah, gerakan pencerdasan dan pemberdayaan umat, sehingga daya tarik agama menguat, nilai kultural  membawa effek berarti dalam fungsinya.

 

Ke depan juga dapat dikatakan bahwa pertarungan tertutup sulit menghindari nya, antara pola, gaya dan paham tokoh keagamaan lama, Tuanku semata, dengan pola pikir, style dan paham keagamaan cendikiawan yang berasal dari surau dan bergelar Tuanku. Beda paham dan pola pikir menyelesaikan masalah antara Cendikiawan dengan Tuanku, tentu akan mudah diatasi, lebih hebat lagi bila Tuanku dan Cendikiawan bersatu pada diri yang satu. Sebagai contoh misalnya bisa dirasakan dalam bidang aqidah, paham tauhid ahlussunah yang oleh masyarakat masih belum tuntas, dan bercampurbaur dengan pengobatan, dukun, adanya pantangan, urang jadi-jadian, hantu, jumbalang, paham tarekat wahdat al wujud, shalat daim, dzikir untuk tujuan menganiya orang, oleh Tuanku sepertinya dibiarkan, sedangkan Tuanku Cendikiawan tidak bisa mentolerirnya. Purifikasi Islam adalah keniscayaan, beda dengan mereka yang ingin berada di zona aman, keberatan mengkritik yang tidak benar.

 

Dari segi prilaku keagamaan, Tuanku yang masih saja tetap bersikukuh dengan pendekatan fanatik guru, dan cendrung mempertahankan tradisi keagamaan yang minus dakwah. Dalam lapangan fiqih Tuanku mestinya mulai berfatwa lebih luas dan cerdas. Khilafiyah dirujuk kepada sumber awal. Masalah rakaat shalat tarawih 23 dan 11. Shalat buraha di makam Syekh Burhanuddin, Shalat qadha tiap waktu shalat, maliek bulan puaso rayo, dan mengitung bulan taqwim adalah contoh masalah yang tidak tabu untuk didiskusikan, menemukan strategi dan pola yang tepat, untuk dilakukan penyesuaian, tanpa harus kehilangan aslinya. Munculnya pengabungan istilah Tuanku dengan cendikiawan di motivasi oleh kenyataan bahwa kedua istilah itu belum dapat berjalan seiring dan maksimal.

 

  1. GRAND DESIGN OF CHANGE TUANKU CENDIKIAWAN

Perubahan adalah usaha terencana untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Dalam konteks perubahan sosial, tokoh pengubah dan situasi yang akan diubah harus dapat dipetakan secara benar dan berkelanjutan. Tuanku Cendikiawan sebagai motor perubahan perlu membekali diri dengan peta masalah yang sedang, dan akan dihadapi. Hemat penulis, Tuanku Cendikiawan dituntut untuk menetapkan lingkup masalah keumatan yang dapat dicarikan solusinya dan selanjutnya dilakukan gerakan perubahan, di antaranya yang mendesak adalah peningkatan pemahaman keagamaan yang benar dan lurus, penjagaan moralitas umat, peningkatan etos kerja dan etika sosial, gerakan ekonomi keumatan, dan pemberdayaan masyarakat.

 

 

 

  1. Peningkatan Pemahaman Keagamaan, Akhlak dan Moralitas.

Tuanku Cendikiawan segera melakukan perubahan terhadap pemahaman keagamaan yang berdasarkan warisan budaya, doktrinal, simbolik, formalistik, sekedar nama dan KTP, ini perlu dicerahkan secara melembaga melalui organisasi dakwah pencerahan, peningkatan modul dan materi ajar pendidikan keluarga, pembukaan kursus dan lembaga swadaya pendidikan masyarakat. Pendirian pusat dakwah di Nagari, melibatkan diri dalam perangkat nagari, menyusun kegiatan keagamaan dengan memanfaatkan dana Desa, perantau, Baznas, dan dana umat lainnya adalah bentuk perubahan yang harus menjadi inti gerakan Tuanku Cendikiawan.

 

Peningkatan Akhlak dan Moralitas sebagai tiang kemajuan. Kemajuan era digital telah dengan nyata mengikis akhlak dan moral umat. Strategi yang harus disusun oleh Tuanku Cendikiawan adalah mendayagunakan semua potensi, lebih khusus lagi kecakapan generasi milinial untuk menjadi pelopor dakwah berbasis IT, media sosial, gerakan dakwah pemberdayaan dan dakwah yang mencerahkan. Menghimpun tokoh umat, tokoh agama dan aktivis untuk menjadi pengerak dakwah adalah cara tepat untuk mengembalikan akhlak mulia dan moralitas tinggi.

 

Etos Kerja dan Etika Sosial prasyarat peradaban. Sumber daya ekonomi lokal dan lahan masih cukup tersedia, sayangnya umat banyak yang memiliki etos kerja kurang baik, dan banyak pula yang tidak baik etika sosialnya. Tuanku Cendikiawan dapat mengadakan iven sosial, olah raga, acara kepemudaan yang dalam pelaksanaannya disisipkan pesan moral pentingnya akhlak mulia dan etika sosial. Menyusun kegiatan sosial, pendidikan dan budaya dapat dilakukan dengan mengkoneksikan dengan dinas intansi pemerintah, dunia usaha dan swasta. Penegakan disiplin sosial dan kepedulian sosial adalah prasyarat untuk menghadirkan masyarakat berbudaya tinggi.

 

  1. Pendidikan, Kesehatan dan Ketahanan Keluarga.

Tuanku Cendikiawan harus mampu menjadi agent percepatan kuantitas dan kualitas pendidikan. Mengagas pendidikan bermutu dan memperluas jangkauan pendidikan dapat dilakukan dengan bekerjasam dengan stakeholder pendidikan. Pendidikan agama dan keagamaan di masyarakat yang masih konvensional menunggu sentuhan Tuanku Cendikiawan untuk dikembangkan menjadi lebih baik dan membawa perubahan berarti bagi masyarakat. Mendirikan sekolah, kursus keagamaan, privat pendidikan, dan pembumian masyarakat belajar adalah kegiatan penting untuk pendidikan.

 

Kesehatan masyarakat adalah indikator kemajuan bangsa, Tuanku Cendikiawan diminta untuk memberikan dukungan pada promosi kesehatan, imunisasi, kependudukan, keluarga berencana, perencanaan sehat dan gerakan kesehatan masyarakatan yang diinsiasi oleh Dinas Kesehatan. Tuanku Cendikiawan di antaranya yang menjadi tokoh agama terdidik yang menjadi penyuluh, tempat bertanya dan menjadi komunikator dalam hal kesehatan masyarakat.

 

Ketahanan keluarga yang mulai rapuh oleh ekses negatif era digital, harus menjadi perhatian Tuanku Cendikiawan. Membuka konsultasi keluarga, menjadi konsultan keluarga, menanggani anak-anak terpapar narkoba, mengatasi remaja terlibat pergaulan bebas, dan masalah remaja, perceraian, dan soal keluarga lainnya dapat diselesaikan Tuanku Cendikiawan.

 

  1. Ekonomi dan Pemberdayaan umat

Tuanku Cendikiawan dapat menjadi pengerak ekonomi keumatan melalui peningkatan pengelolaan travel haji, bimbingan haji dan umrah, ziarah bersama, dan kegiatan keumatan yang melibatkan pengusaha dan jamaah masjid dan surau. Pondok Pesantren sebagai simpul keagamaan juga dapat dibantu oleh Tuanku Cendikiawan untuk mengunakan fasilitas yang disediakan Kementrian Agama, Kementrian lain dan Pemerintah Daerah.

 

Pemberdayaan Umat. Peran penting lainnya dari Tuanku Cendikiawan adalah menjadi pengerak pemberdayaan umat. Memberikan informasi, edukasi dan advokasi, terhadap masyarakat yang mendapat perlakuan tidak adil adalah tugas mulia yang bisa dilakukan dengan menyertakan lembaga swadaya masyarakat sesuai bidangnya. Membantu pemerintah, dan pihak lainnya dalam mendorong dan percepatan kemajuan dapat menjadi kegiatan Tuanku Cendikiawan, dikarenakan kedekatannya dengan masyarakat menjadi faktor yang menguntungkan bagi pencapaian tujuan.     

 

  1. PROGRAM PRIORITAS DAN KELEMBAGAAN

Untuk merealisir gerakan di atas maka diperlukan adanya program dan kelembagaan Tuanku Cendikiawan yang luwes, fleksibel, dan dapat mengakses semua pihak yang terkait dengan gerakan kemajuan umat ini. Dalam hal yang berkaitan dengan program prioritas lebih difocuskan pada Pusat Penelitian, Pengkajian, Pengembangan, Pemberdayaan dan Pendampingan seperti yang disebutkan pada grand design to change di atas. 

Sedangkan bentuk kelembagaan diajukan dalam bentuk ASOSIASI TUANKU CENDIKAWAN (ATC) dengan susunan kelembagaan, Pembina, Pengurus dan Devisi sesuai kebutuhan.  Kelembagaan bersifat indenpendet, lebih menuju pada organisasi profesional dan bersifat terbuka. Anggota asosiasi Tuanku Cendikiawan terdiri dari anggota kehormatan yaitu Kepala Daerah Pejabat Pemerintah sesuai bidang dan tingkatannya, Pimpinan Surau dan Pondok Pesantren, Ulama, Cendikiawan, Pengusaha muslim, tokoh masyarakat yang mumpuni dan peduli. Anggota biasa adalah semua Tuanku yang sudah bergelar sarjana (S1, S2 dan S3). Calon anggota adalah santri, alumni Surau, Pondok Pesantren yang memiliki pemahaman sama dan menyatakan diri siap berkonstribusi untuk kebaikan lebih luas. 

 

  1. PENUTUP

Gagasan adanya lembaga yang menjadi wadah Gerakan Tuanku Cendikiawan ini dimaksudkan untuk memberikan dukungan bagi maksimalisasi peran Tuanku yang sudah menjadi cendikiawan dan tentunya bobot dirinya melebihi tuanku biasa dan cendikiawan biasa. Semoga semua Tuanku dan pihak-pihak terkait memahami dan memberikan dukungan terhadap percepatan kemajuan nagari, umat dan bangsa. Pengagas, Duski Samad, Guru Besar UIN Imam Bonjol, Alumni Madrasah Tarbiyah Islamiyah Batang Kabung Padang, Tahun 1980. Gelar Tuanku Mudo dipasangkan (alm) Syekh H.Salif Tuanku Sutan, sejak 20 Juni 1980,  Padang,07032019.     



DSP3A Padang Pariamn Verifikasi Basis Data Terpadu Penerima Bantuan Pemerintah
  • DSP3A Padang Pariamn Verifikasi Basis Data Terpadu Penerima Bantuan Pemerintah

    Sabtu, | 07:51:45 | 161 Kali


  • 7 Panti Asuhan Terima Bantuan Dari DSP3A Padang Pariaman
  • 7 Panti Asuhan Terima Bantuan Dari DSP3A Padang Pariaman

    Sabtu, | 07:44:14 | 191 Kali


  • Padang Pariaman Ikuti Program Gerakan Menuju 100 Smart City
  • Padang Pariaman Ikuti Program Gerakan Menuju 100 Smart City

    Jumat, | 14:13:59 | 125 Kali


  • KPU Padang Pariaman Gencar Lakukan Sosialisasi Pemilu 2019
  • KPU Padang Pariaman Gencar Lakukan Sosialisasi Pemilu 2019

    Jumat, | 14:06:52 | 134 Kali


  • Banyak Pembina Pramuka Tak Mahir Baris Berbaris
  • Banyak Pembina Pramuka Tak Mahir Baris Berbaris

    Kamis, | 12:38:01 | 166 Kali