Masalah Bangsa Indonesia, Miskinnya Kepercayaan
Oleh: Ruchman Basori (Ketua PP Gerakan Pemuda Ansor dan Kasi Kemahasiswaan Ditjen Pendidikan Islam K

Selasa, 14 Mei 2019 | 09:06:59 WIB, Dilihat 476 Kali

Oleh ari

Masalah Bangsa Indonesia, Miskinnya Kepercayaan

Baca Juga : Senin Cerdas, Diskominfo Bahas Kebijakan Pemko Tekan Inflasi


Fenomena miskinnya kepercayaan (trust) sedang menjadi masalah bangsa ini. Menjadi masalah serius hampir menggerogoti bangunan kemasyarakatan dan kebangsaan kita. Menipisnya atau absennya kepercayaan berakibat pada ketidakefektifan melakukan misi kehidupan social dan keumatan.

Antar kawan, antar sesama, rakyat dengan para pemimpin, tokoh agama dengan ummat  bahkan relasi guru-murid muncul rasa saling tidak percaya. Informasi, anjuran dan perintah menjadi semakin sulit diterima, apalagi sampai pada menjalankan suatu agenda-agenda yang diharapkan untuk kebaikan.

Benar apa yang dikatakan Moorman (2003) yang mendefinisikan kepercayaan (trust) sebagai kesediaan (willingness) individu untuk menggantungkan dirinya pada pihak lain yang terlibat dalam pertukaran karena individu mempunyai keyakinan (confidence) kepada pihak lain.

Kekacauan dan konflik yang terjadi selama ini sering dipicu karena hilangnya kepercayaan, apalagi kalau sudah terkait dengan politik praktis. Betapa kita alami di dunia maya yang terefleksi di media sosial juga di dunia nyata, yang benar menjadi salah yang salah malah dianggap sebagai sebuah kebenaran. Ini menyedihkan di saat kita menghadapi tantangan serius menjadi bangsa besar di tengah-tengah globalisasi.

*

Trust pada hakikatnya adalah sikap mental untuk menyediakan diri menerima orang lain. The other dianggap mempunyai kapasitas mental untuk dipercayai, sebaliknya pihak lain merasa kita layak untuk dipercaya. Diantara kita tidak boleh merasa paling hebat, paling penting dan paling benar (truth claim). Sementara yang lain kalau tidak sefaham dengan kita dianggap salah, tidak bermutu dan tidak begitu penting. Saling asah, saling asih dan saling asuh sebagai lokal wisdom menjadi bekal penting untuk memupuk rasa saling percaya.

Orang bijak bestari mengatakan: “Kepercayaan seperti selembar kertas, sekali saja dia teremas dan kusut, dia tidak bisa kembali sempurna lagi”. Ada juga yang mengibaratkan kepercayaan itu seperti sebuah kaca: “Kepercayaan itu seperti kaca. Saat rusak, kau bisa memperbaikinya. Tapi kau masih bisa melihat retaknya”. Karenanya kita harus hati-hati menjaga kepercayaan agar tidak robek seperti kertas dan pecah seperti kaca, karena akan sulit mengembalikannya seperti semula.

Kejujuran menerima informasi dan menyampaikan informasi menjadi penting. Kita harus menganggap saudara kita amat penting bagi kehiduan kita. Hidup ini terasa tidak indah dan kurang bermakna jika ada bagian dari saudara kita tidak saling percaya. Ayo bro terimalah dengan tulus sahabat-sahabat kita dengan kepercayaan.

Ibadah puasa ramadlon pada hakikatnya juga bagian dari ajaran untuk membina kepercayaan antara hamba dengan Tuhan. Tuhan telah memberikan kepercayaan kepada kita berupa jiwa, harta dan nyawa dan segala properti kehidupan. Sekarang kita manusia juga harus menjaga kepercayaan Tuhan itu dengan tunduk dan patuh atas perintah-perintah-Nya. Pada saat yang sama juga rela menerima larangan-larangan Tuhan dengan kepercayaan akan kebenaran Tuhan tersebut.

Masyarakat beragama (religious) seperti di Indonesia dengan demikian memiliki pengikat dan juga panduan agar kita mampu menjaga sikap saling percaya. Bisa berupa tradisi dan budaya yang terus berkembang menjadi kenyataan bahwa bangsa ini unggul karena memiliki keluhuran budi dan relasi saling percaya. Tata hukum dan norma kebangsaan kita juga sangat kuat untuk menjaga relasi kemanusiaan, relasi kebangsaan dan relasi keagamaan yang biasa di kenal dengan ukhuwah Islamiyah, ukhuwah basyariyah dan ukhuwah wathoniyah. Tidak munkin tercipta ukhuwah jika kita tidak saling mengikatkan dengan kepercayaan.

Tuhan mengingatkann kita sebagai orang yang beriman dalam Q.S. Al-Anfal: 27: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu Mengetahui.”

Diperkuat dalam hadits Nabi: “Tidak ada iman bagi yang tidak ada amanat padanya (menjaga amanat) dan tidak ada agama bagi yang tidak ada janjinya baginya (memenuhi janji).”(H.R. Imam Ahmad). Demikian agama telah memberikan pandungan sangat apik dalam menempa diri kita agar menjadi orang yang menjaga kepercayaan.

Semoga puasa ramadlon yang sedang kita lakukan memberikan dampak positif pada sikap mental kita yang semula sangat rapuh menjaga amanah (kepercayaan), baik sebagai sesama bangsa maupun sesama agama. Kepercayaan adalah mutiara kehidupan, yang akan indah dilihat apalagi dipakai dalam setiap jengkal kehidupan. Ini mudah diucapkan tapi sulit dilakukan bukan?



Senin Cerdas, Diskominfo Bahas Kebijakan Pemko Tekan Inflasi
  • Senin Cerdas, Diskominfo Bahas Kebijakan Pemko Tekan Inflasi

    Selasa, | 08:39:06 | 193 Kali


  • Sekda Payakumbuh Monitor Kestabilan Inflasi Harga Bahan Pokok
  • Sekda Payakumbuh Monitor Kestabilan Inflasi Harga Bahan Pokok

    Selasa, | 08:31:08 | 157 Kali


  • Tunggu Proses di Kementerian PUPR, Pasar Pariaman Segera Dibangun
  • Tunggu Proses di Kementerian PUPR, Pasar Pariaman Segera Dibangun

    Selasa, | 08:27:23 | 176 Kali


  • Pengendalian Inflasi di Payakumbuh Dengan Bazar
  • Pengendalian Inflasi di Payakumbuh Dengan Bazar

    Selasa, | 08:19:42 | 131 Kali


  • Resensi Buku, Meneladani Jejak Kiai Djoyo Ulomo Lampung
  • Resensi Buku, Meneladani Jejak Kiai Djoyo Ulomo Lampung

    Selasa, | 08:07:25 | 283 Kali