Guru di Pariaman Masih Minim Menulis Buku

Rabu, 09 Okt 2019 | 17:29:13 WIB, Dilihat 62 Kali

Oleh ari

Guru di Pariaman Masih Minim Menulis Buku

Baca Juga : Diklat Kepemimpinan Tingkat IV Angkatan 5 Pemkab Padang Pariaman Resmi Ditutup


Pariaman, Sitinjausumbar.com – Buku yang ditulis guru di Kota Pariaman masih sangat minim. Padahal guru tidak hanya mengajar saja, tapi juga dituntut untuk menulis buku.

Demikian diungkapkan Walikota Pariaman diwakili Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kanderi ketika membuka Pelatihan Menulis Sagusabu Pariaman, Rabu (9/10/2019) di Pariaman. Pelatihan yang berlangsung dua hari, diikuti sekitar 85 orang peserta yang berasal dari Kota Pariaman, Padang Pariaman, Padangpanjang, Tanah Datar dan Agam.  Pelatihan diselenggarakan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Pariaman bekerjasama dengan Ikatan Guru Penulis dan Penggiat Literasi (IGPPL) Sumatera Barat.

Menurut Kanderi, minimnya guru menerbitkan buku ini memang menjadi tantangan ke depan. Mudah-mudahan dengan pelatihan menulis satu guru satu buku (sagusabu) ini dapat meningkatkan kemampuan dan minat guru untuk menulis.

“Kita akui, sudah ada guru yang menulis buku. Tapi jumlah bisa dihitung dengan jari. Kalaulah satu sekolah mampu menerbitkan satu buku saja, berarti puluhan buku bakal lahir di Kota Pariaman. Apalagi kalau satu sekolah mampu menerbitkan 5 buku, tentu bakal lebih banyak lagi buku yang ditulis guru Kota Pariaman,” tutur Kanderi.

Dikatakan Kanderi, Pemerintah Kota Pariaman terus mendorong guru agar mampu menulis. Tahun depan jumlah peserta pelatihan ini bisa ditingkatkan lagi. Kondisi ini tentu tidak bisa disalahkan guru semata. Perlu dorongan dan motivasi dari kepala sekolah, dinas pendidikan dan keluarga. Bagaimana kepala sekolah dan dinas pendidikan mendorong guru yang mampu menjadi panutan, produktif menulis dan professional dalam mengajar.

Minimnya guru yang mampu menulis, kata Kanderi, juga disebabkan malasnya membaca buku. Belum banyak guru yang menyediakan waktunya untuk membaca buku. Guru belum menyediakan waktunya 1 hingga 2 jam untuk membaca buku. “Permasalahan buku ini juga menyangkut peningkatan kualitas pendidikan. Di tangan guru terletak bagaimana kondisi bangsa ini ke depannya.

Karena itu, kata Kanderi, profesi guru harus menjadi panggilan jiwa. Sehingga guru mampu melakukan proses belajar mengajar dengan baik dan sesuai dengan tujuan pendidikan di sekolah. Guru yang baik pasti disegani dan dihormati muridnya, kepala sekolah dan orang lain.

“Pendidikan tersebut dinamis, sesuai dengan perkembangan zaman. Sekarang guru harus memiliki kemampuan membaca dan menulis dengan baik. Guru yang banyak membaca, dapat dipastikan mampu juga menulis. Sebaliknya, guru yang malas membaca pasti tidak akan mampu menulis,” kata Kanderi mengakhiri.

Tampil sebagai narasumber Editor Senior Media Guru Istiqomah. (arta)



Diklat Kepemimpinan Tingkat IV Angkatan 5 Pemkab Padang Pariaman Resmi Ditutup
  • Diklat Kepemimpinan Tingkat IV Angkatan 5 Pemkab Padang Pariaman Resmi Ditutup

    Rabu, | 07:22:16 | 19 Kali


  • Santri Ponpes Bustanul Yaqin Juara Lomba Pidato Bahasa Arab di IAIN Batusangkar
  • Santri Ponpes Bustanul Yaqin Juara Lomba Pidato Bahasa Arab di IAIN Batusangkar

    Rabu, | 07:10:15 | 339 Kali


  • Kepsek SMA 4 Pariaman Berharap Alumni Bersatu
  • Kepsek SMA 4 Pariaman Berharap Alumni Bersatu

    Selasa, | 18:05:54 | 35 Kali


  • KSAL Dukung Peringatan Hari Nusantara 2019 di Kota Pariaman
  • KSAL Dukung Peringatan Hari Nusantara 2019 di Kota Pariaman

    Selasa, | 18:01:12 | 18 Kali


  • Tingkatkan Pengetahuan Pentingnya Pangan B2SA
  • Tingkatkan Pengetahuan Pentingnya Pangan B2SA

    Selasa, | 17:58:07 | 35 Kali