Ghibah Legal
Oleh: Duski Samad (Guru Besar UIN Imam Bonjol Padang)

Kamis, 27 Jun 2019 | 09:09:05 WIB, Dilihat 320 Kali

Oleh ari

Ghibah Legal

Baca Juga : Kemenag Minta Moderasi Beragama Dikenalkan pada Mahasiswa Baru


Dunia informasi yang begitu deras dan meluas telah membawa manfaat besar dan sekaligus juga mendatangkan kebingungan yang luar biasa. Informasi sebgai pertimbangan dalam menetapkan sikap dan pilihan keputusan pasti diperlukan dan menjadi prasyarat ketepatan dan kebenaran keputusan. Dalam al Qur'an istilah Informasi bohong atau berpotensi bohong ada empat macam yaitu, ghibah, ifqi, buhtan dan fitnah.

Ghibah diungkap dalam surat al hujurat ayat 12. Ghibah dalam sosial artinya gunjing, yaitu membincang kelemahan, aib orang seperti apa adanya, namun tidak elok atau yang dibincangkan merasa tidak enak dibicarakan orang lain. Jenis kedua informasi berpotensi bohong namanya Ifqi yaitu berita yang didengar atau diketahui dari pihak lain, belum ada klarifikasi dan tabayyun dari orangnya. Kata ifqi itu disebut dalam surat Nuur, ayat 11. Berkenaan dengan pencemaran nama baik umulmukmin, Aisyah rda.

Istilah informasi dosa dan bohong disebut dengan kata Buhtan. Artinya tuduhan, bohong, hoax yakni informasi, berita, pembicaraan palsu, tidak berdasar dan yang tidak ada dibuat ada, framing, penyesatan opini dan pengalihan.

??? ????????? ?????????? ??????????????? ??? ???????????? ???????? ??? ???????????? ?????? ???????????? ??????? ??? ?????????? ??????????

"Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh, mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata."(QS. Al-Ahzab 33: 58). Ada beberapa lain yang kata buhtan diiringi isma artinya dosa. Kata fitnah itu informasi yang disebar untuk mencelaka kan orang atau merusak kelompok dan bangsa.

Ghibah, hukum dasarnya tidak baik dan berakibat merusak hubungan sesama dan meruntuhkan persatuan dan silaturahim. Dalam hal yang berkaitan dengan kepentingan syar'i ada ghibah yang dilegalkan dan bahkan diperintahkan. Imam Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim dan Riyadhu As-Shalihin, menyatakan bahwa ghibah adalah perbuatan yang dilarang, kecuali diperbolehkan untuk tujuan syara’ yang tidak mungkin tercapai kecuali dengan ghibah (Nawawi, Syarah Shahih Muslim dan Riyadhu As-Shalihin. Sayid Muhammad Nuh, Afat Ala al-Thariq, 1996, hlm 52)

Dalam Tafsir al Munir, juz 26 h.264-5, tulisan Wahbah Zuhaily, membahas surat al Hujurat menjelaskan bahwa ada enam jenis ghibah yang diperboleh kan, yaitu:

1. Tazallum.

Ghibah untuk mengadukan kezhaliman (at-tazhallum). Bagi orang yang dizhalimi boleh mengadukan kezhaliman kepada penguasa atau hakim, atau selain keduanya yang berkompeten untuk menghilang kan kezhaliman itu. Dalam pengaduan tersebut tentu ia akan menceritakan keburukan orang yang menganiaya dirinya, karena dengan menceritakan yang dialaminya keadilan dapat berpihak padanya, dengan memberi tahu secara jelas tentang penganiayaan yang terjadi padanya.

2. Isti'anah 'Ala Tagyirul Munkar.

Ghibah untuk minta tolong (al-isti’anah) dalam melakukan perubahan kemungkaran. Meminta bantuan untuk merubah kemungkaran dan mengembalikan orang yang maksiat menjadi taat kepada Allah Swt, kepada orang yang dirasa mampu untuk melakukannya.

Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw bersabda :“Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu, maka dengan lisannya, dan jika tidak mampu maka dengan hatinya.” (HR. Muslim).

3. Istifta'

Ghibah untuk minta fatwa (istifta`) seperti seseorang yang meminta fatwa kepada ulama dan ustadz, misalnya saudaraku menzhalimiku seperti ini, maka bagaimana hukumnya bagi diriku maupun bagi saudaraku tersebut. Dalam suatu hadits dikisahkan bahwa Hindun binti Utbah (istri Abu Sufyan) meminta fatwa kepada Rasulullah Saw, tentang suaminya :

?? ????? ??? ????? ???? ???? ???? ??? ????? ??? ????? ????? ??? ????? ???? ???? ???? : ?? ??

????? ??? ???? ???? ?????? ? ?????? ????? ??? ?? ???? ??? ??? ?? ???? ??? ??? ?

????? ????? ????????

 

Artinya:“Dari ‘A`isyah RA, dia berkata, “Hindun isteri istri Abu Sufyan berkata kepada Nabi SAW, ’Sesungguhnya Sufyan adalah seorang laki-laki yang bakhil, dia tidak memberiku apa yang mencukupi kebutuhanku dan kebutuhan anakku, kecuali aku mengambil darinya sedang dia tak tahu. Rasulullah SAW bersabda, “Ambillah apa-apa yang mencukupimu dan mencukupi anakmu dengan ma’ruf.” (HR.Bukhari & Muslim).

4. Tahdzir 'Alal Muslim

Ghibah untuk memperingatkan (tahdzir) untuk kepentingan umat. Kebolehan ghibah at-tahdz?r lil muslim artinya adalah memperingatkan orang-orang Islam dari kejahatan dan kesesatan. Ghibah terkait ilmu dan menjamin keselamatan umat. Misalnya yang dilakukan para ulama ahli hadits dalam menjarh (menyebutkan keburukan) seorang rawi agar tidak terjatuh dalam keburukan. Celaan yang dilakukan oleh ulama jarh wa ta’dil dalam ilmu hadits Ini boleh menurut Ijma’, karena ada hajat yang dibenarkan syara’.

5. Tahdzir 'Al Fasiq.

Berbuat ghibah terhadap orang yang telah terang-terangan berbuat kefasikan. Ghibah boleh dilakukan dengan syarat objek pembicaraannya adalah orang-orang fasiq, ahli bid’ah atau pelaku perbuatan maksiat lainnya. Ghibah terhadap orang yang terang-terangan berbuat fasik atau bid’ah, seperti orang yang orang yang minum khamr secara terang-terangan. Boleh kita katakan,”Sesungguhnya ia telah meminum khamr.” Dan tidak boleh mengatakan lebih dari itu.

6. Al Ta'rif

Untuk menyebut ciri seseorang. Ghibah untuk memperkenalkan (at-ta’rif) seseorang yang dikenal dengan satu nama atau julukan tertentu. Misalnya ada orang yang dikenal dengan nama si buta, maka boleh menyebut nama-nama itu dengan niat untuk memperkenalkan, bukan dengan niat menjelek-jelekkan.

Quraish Shihab menuliskan, ada enam hal yang agama dapat membenarkan seseorang menyebut kejelekan orang lain di belakang yang bersangkutan selama salah satu yang disebut di bawah ini terpenuhi. Pertama, mengadukan penganiayaan yang dialami seseorang kepada pihak yang diduga dapat mengatasi penganiayaan itu. Kedua, mengharapkan bantuan dari siapa yang disampaikan kepadanya keburukan itu agar keburukannya tersingkir. Ketiga, menyebut keburukan dalam rangka meminta fatwa keagamaan. Keempat, menyebut keburukan seseorang dengan tujuan memberi peringatan kepada orang lain agar tidak terkecoh olehnya. Kelima, membicarakan keburukan seseorang yang secara tera-terangan dan tanpa malu melakukannya. Keenam, mengidentifikasi seseorang, atau memberinya gelar atau ciri tertentu, yang tanpa hal tersebut yang bersangkutan tidak dikenal. Menceritakan tentang fisik seseorang dengan maksud merendahkan dan mengejek termasuk ghibah walaupun untuk identitas. Kajian Subuh Masjid Darul Muttaqin Wisma Indah Siteba. Selasa, 25 Juni 2019. ambonsatunomorempatwisma indahsitebapdg25062019.



Kemenag Minta Moderasi Beragama Dikenalkan pada Mahasiswa Baru
  • Kemenag Minta Moderasi Beragama Dikenalkan pada Mahasiswa Baru

    Kamis, | 08:54:41 | 223 Kali


  • Nazifah Juara Pertama Tartil Executive Putri MTQ Sumbar
  • Nazifah Juara Pertama Tartil Executive Putri MTQ Sumbar

    Rabu, | 19:59:47 | 0 Kali


  • IDI, Dokter Itu Pejuang
  • IDI, Dokter Itu Pejuang

    Rabu, | 19:24:59 | 272 Kali


  • Rektor UIN Malang, PIONIR Jalan Masuk Pembinaan Mahasiswa
  • Rektor UIN Malang, PIONIR Jalan Masuk Pembinaan Mahasiswa

    Rabu, | 19:16:59 | 284 Kali


  • Garap Wisata Religi, Wako Pariaman Gandeng Hisar Turizm
  • Garap Wisata Religi, Wako Pariaman Gandeng Hisar Turizm

    Rabu, | 19:19:21 | 176 Kali