Dua-Dua Mei
Oleh: Ruchman Basori (Ketua PP GP Ansor dan Kasi Kemahasiswaan Ditjen Pendidikan Islam Kemenag RI)

Selasa, 28 Mei 2019 | 07:48:07 WIB, Dilihat 278 Kali

Oleh ari

Dua-Dua Mei

Baca Juga : Polres Payakumbuh Libatkan Polcil Mengatur Lalin


Dua-dua Mei telah lewat dengan menyisakan duka mendalam yang membekas bagi anak bangsa, terasa pahit dan getir. Saling serang antara aparat kepolisian dengan demonstran, yang dipicu ketidakpuasan menerima hasil Pemilu 2019. Membedakan demonstran yang benar-benar berjuang atas dasar menegakan demokrasi, dengan demonstran bayaran, demonstran pengacau dengan senjata tajam (sajam) sampai penyusup jaringan radikal bahkan teroris internasional.

Ada yang sangat mulia berdemo dengan niat mati syahid layaknya bertempur di medan perang badar. Walau kenyataannya apa benar kemarin itu perang badar? Ada yang berdemo demi segepok uang, ada juga demo ingin membikin kekacauan dan keonaran. Yang paling parah adalah demonstrasi dengan tujuan mendelegitimasi pemerintah, yang berujung pada penggantian idiologi kebangsaan dengan idiologi khilafah. Sulit memang dijelaskan dengan kasat mata, karena saling terkait dan pelbagai modus kadang saling berkelindan.

 

Secara pribadi aku adalah yang paling terganggu dan dirugikan, pasalnya 22 Mei yang merupakan hari lahirku nyaris terlupakan. Tidak banyak sahabat dan kolega yang mendoakan atau sekedar ucapan selamat ulang tahun, tidak sebagaimana tahun-tahun yang lalu. Apalagi pemerintah dengan kewenangannya telah membatasi penggnaan facebook dan whatsap. Lengkap sudah penderitaanku, kegembiraan dan berjibun doa  yang biasa aku rasakan, berlalu begitu saja tanpa makna.

Bahkan lebih terkejut lagi ada yang mewartakan di media sosial, bahwa 22 Mei adalah hari ulang tahunnya PKI. Dimaknai sebagai tahun kebangkitan PKI karena kata mereka, PKI mendapatkan angin segar dari penguasa saat ini. Jare kancaku wong Purbalingga, "ana-ana baen pinter temen ngarang rika". Berita bohong yang di daur ulang bahwa rezim ini adalah rezim PKI harus diwaspadai, karena akan mengganggu kebangsaan kita.

Tapi apapun, fenomena kerusuhan 21-22 Mei, issu kebangkitan PKI, teroris yang membonceng Pemilu hingga tindakan anarkhis dan brutal yang mengganggu ulang tahunku apalagi membahayakan keamanan dan ketertiban bangsa ini sangat mengkhawatirkan. Poinnya adalah bukan ulang tahunku he he he ... tapi soal bangsa dan negeri ini. Menambah keprihatinan mendalam, ternyata kita masih mempunyai PR besar berbangsa, bernegara sekaligus beragama.

Masih ada sekelompok orang yang jauh dari cintanya terhadap bangsa dan negaranya sendiri, lebih takjub dan menganggap hebat negara lain. Ini fenomena defisit nasionalisme. Masih ada sekelompok orang yang atas nama kekuasaan tega memporak-porandakan tata nilai demokrasi kita yang sudah mulai kuat. Konon kita dinobatkan sebagai negara paling demokratis ketiga dunia, setelah Amerika dan India. Ini fenomena defisit demokrasi.

Hal yang menyedihkan lagi adalah masih ada kelompok yang mengusung idiologi khilafah yang tumbuh dari pemahaman agama yang skriptualis (tekstual), saling menyalahkan dan menganggap dirinya yang paling benar (truth claim) hingga mengkafirkan pihak lain yang berbeda dengannya atau kelompoknya (takfiri). Agama yang semula rahmah menadi marah, agama yang mestinya merangkul menjadi memukul dan agama yang secara substantif cinta kemansiaan berubah menjadi mencintai kebiadaban.

Kelompok ini tidak segan-segan menghalalkan segala cara demi agenda idiologinya. Saat ini mereka sedang berkecambah melalui institusi pendidikan, pengajian-pengajian yang sulit di kontrol dan berbagai modus lain di bawah tanah. Indonesia bagi mereka tidak penting, yang penting adalah Islam khilafah, walau negeri ini dengan 250 juta penduduknya harus porak poranda. Hati-hati fenomena Arab Spring yang melanda Indonesia. Ada semacam copy paste langgam dan gerakan itu, diawali dengan gerakan melalui media sosial, demo tiap habis sholat jumat yang targetnya adalah mendeligitimasi pemerintah.

Fenomena-fenomena itu menyesakan dada di saat kita sedang mempersiapkan menyambut era Indonesia Emas 2045 karena kita mengalami berkah bonus demografi, kata Mc Kensey. Pada saat yang sama kita sedang berbinar-binar menyambut generasi millenial yang progresif dan percaya diri untuk beraktualisasi dan berdaptasi. Para pakar juga sedang sibuk mensosialisasikan Era Industri 4.0 yang penuh tantangan.

Dua-dua Mei yang mestinya sakral berbuah kebahagiaan berubah menjadi bara yang menghantam anak bangsa. Monggo sami sareh, menerima ketentuan-Nya yang indah. Tuhan adalah Maha Pembat Skenario. Maka janganlah makar atas dasar da kepentingan apapun. Mari kita syukuri apa yang ada, anugerah Tuhan yang Maha Kuasa.  Fabiayyialai rabbikumaa tukadzdzibaan. Wallahu a'lam bi al-shawab.

Pamulang, 26 Mei 2019



Polres Payakumbuh Libatkan Polcil Mengatur Lalin
  • Polres Payakumbuh Libatkan Polcil Mengatur Lalin

    Selasa, | 07:38:01 | 171 Kali


  • Mahasiswa Bidikmisi IAIN Bengkulu Susun Tiga Buku
  • Mahasiswa Bidikmisi IAIN Bengkulu Susun Tiga Buku

    Selasa, | 07:33:44 | 248 Kali


  • Khatam Alquran, Bupati Padang Pariaman Langsung Berikan Uang
  • Khatam Alquran, Bupati Padang Pariaman Langsung Berikan Uang

    Selasa, | 07:10:56 | 170 Kali


  • Kuatkan Bengkulu Kota Religi dan Pendidikan, IAIN Bengkulu Bertransformasi Menjadi UIN
  • Kuatkan Bengkulu Kota Religi dan Pendidikan, IAIN Bengkulu Bertransformasi Menjadi UIN

    Selasa, | 07:00:09 | 211 Kali


  • PKC PMII Sumbar Dukung TNI-Polri, Apresiasi Penanganan Pasca Pilpres
  • PKC PMII Sumbar Dukung TNI-Polri, Apresiasi Penanganan Pasca Pilpres

    Selasa, | 06:50:52 | 201 Kali