Asal Usul Tahun Baru Masehi
Oleh : Mustari, M.Pd (Guru MTsN 6 Padang Alai Padang Pariaman)

Sabtu, 26 Des 2020 | 06:25:03 WIB, Dilihat 1655 Kali

Oleh ari

Asal Usul Tahun Baru Masehi

Baca Juga : Mahasiswa Peserta Diklatpimnas Dibekali Networking Building


Awal perayaan tahun baru diyakini berada di Mesopotamia (sekarang Irak), sekitar 2000 tahun sebelum masehi. Ketika itu tahun baru dirayakan pada pertengahan bulan Maret, karena pada masa itu adalah pergantian musim. Barulah pada tahun 45 sebelum masehi, tahun baru dirayakan pada tanggal 1 Januari.

Istilah Januari diambil dari nama salah satu dewa dalam mitologi bangsa Romawi, yakni Dewa Janus. Alasan dipilihnya nama Dewa Janus sebagai awal tahun baru dalam kalender Romawi itu,  yakni Dewa Janus memiliki dua wajah yang menghadap kedepan dan belakang. Dalam kepercayaan orang Romawi, Janus diyakini sebagai dewa permulaan sekaligus dewa penjaga pintu masuk. Sejak diberlakukan kalender itu, setiap tengah malam jelang pergantian tahun, yakni 31 Desember, orang-orang Romawi menggelar perayaan untuk menghormati Dewa Janus. Mereka membayangkan, satu wajah Janus melihat ketahun lama dan wajah lainnya menatap hari-hari kedepan di tahun baru.

Orang-orang Romawi  memulai tradisi dengan saling memberikan hadiah pada malam tahun baru. Menurut keyakinan mereka, akhir tahun lama dan awal tahun baru adalah saat yang tepat untuk memberikan hadiah bermakna. Biasanya berupa ranting dari pohon-pohon keramat, atau perak dan emas, ini  melambangkan keberuntungan. Beberapa jenis makanan disajikan, terutama madu dan permen yang dianggap sebagai simbol kedamaian. Rumah dan lingkungan sekitar dihias dengan lampu berwarna warni dengan harapan satu tahun kedepan akan dilalui dengan penuh cahaya atau kecemerlangan dalam hidup. Sebagai wujud penghormatan kepada Dewa Janus, orang-orang Romawi mempersembahkan koin-koin emas dengan gambar dewa mereka itu. Harapannya, Dewa Janus akan selalu memberkati mereka dalam kehidupan setahun kedepan.

Dari beragam tradisi dan pemujaan, makna tahun baru terus mengalami pergeseran. Banyak orang mulai membuat resolusi untuk mengubah kebiasaan buruk dan memulai kebiasaan baik. Seperti orang Persia Kuno yang memberi hadiah telur saat tahun baru. Tradisi ini melambangkan produktivitas yang meningkat di tahun yang baru. Tahun baru juga dijadikan momen untuk memohon keberuntungan di tahun yang akan datang. Di Amerika Serikat terdapat tradisi makan kacang polong hitam sebagai harapan untuk tahun baru. Pada tahun 1788 lagu tradisional Auld Lang Syne dinyanyikan di malam tahun baru. Lagu yang berarti waktu yang berlalu ini ditulis penyair Skotlandia, Robert Burns berdasarkan cerita rakyat yang berkembang saat itu. Perayaan di pusat-pusat kota yang berlangsung hingga saat ini disebut berawal dari Times Square New York. Perayaan di atas atap One Times Square pertama kali berlangsung pada tahun 1904 untuk meresmikan kantor baru, Times Square. Perayaan itu dilengkapi dengan kembang api. Perayaan tahun baru dengan menjatuhkan bola pertama di One Times Square diadakan pada 31 Desember 1907. Pada tahun 1942 dan 1943  penurunan bola ditunda karena Perang Dunia. Saat itu, kerumunan merayakan tahun baru dengan kesunyian, diikuti dengan lonceng yang berdering dari sebuah truk. Sekarang perayaan tahun baru dibuat dengan semeriah mungkin. Mulai dari pesta, terompet, kembang api, hingga petasan.

Penetapan tanggal 1 Januari  sebagai awal tahun, Julius Caesar meminta bantuan seorang ahli astronomi dan matematika dari Alexandria (Iskandariyah) bernama Sosigenes.

Ia menyarankan agar kalender baru dibuat dengan mengikuti perputaran matahari seperti yang sudah diterapkan oleh orang-orang Mesir kuno. Satu tahun dihitung 365 seperempat hari. Julius Caesar setuju dengan  saran tersebut dan menambahkan 67 hari pada 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Untuk menghindari kejanggalan dalam rumusan kalender baru itu, Julius Caesar menyarankan supaya ditambahkan satu hari pada bulan kedua (Februari) setiap empat tahun. Inilah asal muasal tahun kabisat. Penanggalan ini kemudian dikenal dengan nama Kalender Julian, ini diambil dari nama Julius (Juli) Caesar. Saat Kalender Julian diterapkan memang belum memasuki tahun Masehi.

Tahun Masehi dihitung sejak kelahiranYesus (Isa Al-Masih) dari Nazaret yang mulai diadopsi di Eropa Barat pada abad ke-8  untuk menghitung tanggal Paskah berdasarkan tahun pendirian Roma. Pada tahun 1582  kalender Julian dimodifikasi menjadi Kalender Gregorian dan disetujui oleh pemimpin tertinggi umat Katolik di Vatikan oleh Paus Gregory XIII. Di tahun yang sama, Paus menetapkan 1 Januari sebagai tahun baru pertama.                                                                                                          

Dalam Bahasa Inggris Tahun Masehi disebut anno Domini Nostri Jesu Christi, disingkat Anno Domini ,disingkat AD ( Latin) yang artinya Tahun Tuhan kita Yesus Kristus). Tahun AD dalam Bahasa Inggris sering juga disebut dengan tahun CE (Christian Era). Sedangkan tahun sebelum kelahiran Kristus disebut BCE (Before Christian Era).

Tahun baru Masehi ditemukan oleh Dionysius Exiguus, seorang biarawan, pada tahun 525 Masehi. Namun Tahun Masehi sendiri baru diterima secara Internasional pada sekitar tahun 800-an. Beliau menghitung tahun kelahiran Kristus berdasarkan catatan sejarah dan catatan dalam Alkitab. Dalam Kitab Injil disebutkan bahwa Yesus Kristus memulai pelayanannya pada waktu berumur sekitar 30 tahun, pada tahun ke-15 pemerintahan Kaisar Tiberius dari Roma. Sedangkan menurut catatan sejarah Kaisar Tiberius mulai memerintah pada tahun 768 AUC (AUC singkatan dari anno urbis conditiae) yaitu tahun yang dihitung berdasarkan mulai berdirinya kota Roma.

Jadi Dionysius menghitung tahun ketika Yesus mulai mengabarkan Injil  pada tahun 783 AUC (yaitu 768 ditambah 15) kemudian menguranginya dengan umur Yesus ketika itu, yaitu 30 tahun. Jadi ketika tahun Yesus dilahirkan adalah tahun 753 AUC (783 dikurangi 30). Tahun inilah yang menjadi tahun AD 1 atau 1 TM, yang dipakai sekarang.

Perlu diingat juga bahwa perhitungan tahun (dan juga tanggal kelahiran Kristus yang disebut Natal) dimana Yesus lahir tersebut adalah perkiraan saja, bisa saja meleset beberapa tahun. Jadi tidak bisa memastikan dengan tepat kapan tahun dan tanggal yang sebenarnya. Namun tahun dan tanggal tersebut ditetapkan untuk memperingati waktu kedatangan Yesus ke dunia ini. Jadi Tahun Masehi adalah untuk memperingati tahun kelahiran Kristus Sang Juru Selamat, sedangkan Natal adalah memperingati tanggal atau hari kelahiran Yesus.



Mahasiswa Peserta Diklatpimnas Dibekali Networking Building
  • Mahasiswa Peserta Diklatpimnas Dibekali Networking Building

    Sabtu, | 06:20:26 | 1441 Kali


  • Rektor UIN Walisongo Ajak Mahasiswa Peduli Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim
  • Rektor UIN Walisongo Ajak Mahasiswa Peduli Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim

    Jumat, | 16:33:25 | 2515 Kali


  • Diklatpimnas Kemenag: Pemimpin Masa Depan Harus Melakukan Perubahan Radikal
  • Diklatpimnas Kemenag: Pemimpin Masa Depan Harus Melakukan Perubahan Radikal

    Jumat, | 16:30:06 | 1429 Kali


  • Antisipasi Penyebaran Covid-19, Pemda Padang Pariaman Batasi Bepergian Keluar Daerah ASN
  • Antisipasi Penyebaran Covid-19, Pemda Padang Pariaman Batasi Bepergian Keluar Daerah ASN

    Kamis, | 20:08:54 | 794 Kali


  • KPU Padang Pariaman Hormati Langkah Hukum Paslon Try Suryadi-Taslim
  • KPU Padang Pariaman Hormati Langkah Hukum Paslon Try Suryadi-Taslim

    Kamis, | 20:52:17 | 809 Kali