Ananta 95 dan 98 Harlah NU Dalam Fenomena Hijrah
Oleh: Herry Miftah H.RA (Ketua PC MATAN Kota Bandar Lampung)

Sabtu, 06 Mar 2021 | 18:04:09 WIB, Dilihat 1338 Kali

Oleh ari

Ananta 95 dan 98 Harlah NU Dalam Fenomena Hijrah

Baca Juga : Disporabudpar Padangpariaman Serahkan Bantuan Bolavoli


Jam’iyyah Nahdlatul Ulama di tahun 2021 ini beberapa waktu lalu merayakan hari lahirnya yang ke-95 dalam kalender masehi dan ke-98 dalam kalender hijriyyah. Menariknya dalam logo resmi Harlah NU kali ini terbentuk gambar logo ananta. Bentuk gambar seperti angka 8 terbaring ini memiliki makna yang luar biasa.

Ananta yang biasa digunakan dalam kaidah matematika ini bermakna bilangan yang lebih besar daripada tiap-tiap yang kemungkinan dapat dibayangkan ananta yang dalam bahasa inggrisnya infinity atau infinite mengandung arti tak terhingga.

Inilah harapan besar, cita-cita yangbesar, dengan khidmah yang lebih besar dan seluas-luasnya. NU dengan tasamuh dan tawassuth-nya membawa Islam meluas kesegala penjuru dunia, rahmatan lil ‘alamin.

Seiring terbukanya segala informasi, trend platform digital dan media sosial yang juga menembus pasar tanpa batas; dari anak-anak, remaja hingga kalangan tua, dari perkampungan hingga perkotaan, bahkan dari strata sosial miskin hingga kaya, semua bisa dengan mudahnya untuk mengakses informasi global. Hal ini tentu harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh para da’i muda NU.

Ibarat sebuah pisau yang bisa di gunakan untuk mengupas mangga, tetapi juga bisa digunakan untuk membunuh. Begitu juga media sosial, disatu sisi memang banyak negatifnya, berbagai konten senonoh beredar bebas, tetapi disisi lain kita bisa menggunakannya untuk kegiatan positif sebagai sarana dakwah. Dakwah berbasis teknologi digital adalah bagian cara untuk menembus segala penjuru, sesuai makna ananta. Tentunya dakwah ini harus dilakukan secara massif, jangan sampai hal yang negative yang lebih dominan.

NU Online menjadi pelopor dalam hal ini, tentulah support dan juga peran dari warga nahdliyin sangat diharapkan agar untuk bersama-sama bergerak, berdakwah, dan berjihad dalam dunia maya, menembus tanpa batas. Seperti dawuh KH. Said Aqil Siradj yang juga resah atas ramainya media sosial dengan konten-konten agama non Aswaja, yang berujung pada pengaburan akidah, ditambah lagi hadirnya fenomena hijrah.

Fenomena hijrah yang terjadi di dekade ini telah membentuks istem dan pemikiran baru tentang belajar Islam. Kalangan artis yang beramai-ramai hijrah adalah sebuah kebaikan dan patut disyukuri, akan tetapi follow up dari hijrahnya belum dalam jalur yang tepat. Sanad keilmuan yang diambilnya belum pas, ketidakjelasan sana sini tentu sangat membahayakan, tidak hanya untuk generasi saat ini, tetapi juga untuk generasi akan datang.

Kita ketahui betapa anak-anak muda akan lebih tertarik untuk mengikuti berbagai gaya artis. Segala gerak, tindakan, fashion hingga gaya rambut ingin sama dengan artis yang menjadi idolanya. Tak berlebihan hingga keranah spiritual.

Dan yang menjadi miris adalah artisyang baru saja hijrah beberapa bulan saja sudah tidak canggung lagi menuliskan predikat ustadz pada namanya, dan memanfaatkan panggung media sosial untuk bicara agama di ranah publik.

Memanglah benar bahwa mencari ilmu saat ini sepertinya jauh lebih mudah ketimbang mencari ilmu pada zaman dahulu. Padahal apakah itu ilmu dari guru yang benar, apakah dari sumber yang benar, apakah itu hoaks, ataukah itu adalah finah-fitnah, telah melebur menjadi satu. Disitulah diperlukan da’i-da’i NU untuk member pencerahan.

Harlah NU saat ini dengan slogan khidmah NU, menyebarkan Aswaja dan meneguhkan komitmen kebangsaan, sangatlah tepat dengan kondisi saat ini.

Sudah bukan rahasia lagi, kelompok ekstrim, aliran garis keras pengatas nama agama dengan sangat serius membidik para pemuda, generasi bangsa kita dalam perjuangan mereka. Praktik penjerumusan aqidah Islam untuk kepentingan politik berujung pada cara-cara memantik kekerasan (chaos) dan terorisme. Sungguh begitu meresahkan umat dan bangsa.

Da’i muda Nahdlatul Ulama wajib hadir untuk berada digarda terdepan, dengan nafas patriotisme dan semangat menyebarkan kedamaian bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin).

Ayo, para da’i muda NU bangkitlah, ayo alumni pondok pesantren turun gununglah ! Sungguh jihad dimedia sosial ini benar-benar panggilan nyata untuk kita. Mari jadikan Harlah NU ini sebagai semangat mempertahankan akidah Ahlu-sunah wal jama’ah, ananta fikrah NU meluas dan menjadi solusi keilmuan bagi para pelaku hijrah, para pencari Tuhan. Wallahu a’lam.

 



Disporabudpar Padangpariaman Serahkan Bantuan Bolavoli
  • Disporabudpar Padangpariaman Serahkan Bantuan Bolavoli

    , | 16:52:38 | 42641 Kali


  • Wawako Pariaman: Industri Kreatif Dorong Pertumbuhan UMKM
  • Wawako Pariaman: Industri Kreatif Dorong Pertumbuhan UMKM

    , | 15:21:21 | 42641 Kali


  • Pariaman Batagak Gala, Pucuak Undangan Wakil Menteri ESDM Archandra Tahar
  • Pariaman Batagak Gala, Pucuak Undangan Wakil Menteri ESDM Archandra Tahar

    , | 06:43:00 | 42641 Kali


  • Prihatin Lihat Kondisi Pesantren Tapuz, Spontan Wako Pariaman bantu Rp 20 Juta
  • Prihatin Lihat Kondisi Pesantren Tapuz, Spontan Wako Pariaman bantu Rp 20 Juta

    , | 06:35:48 | 42641 Kali


  • Wawako Pariaman Orasi pada  Apel Nusantara Bersatu
  • Wawako Pariaman Orasi pada Apel Nusantara Bersatu

    , | 11:15:47 | 42641 Kali