17 April, Mari Buktikan Hoax vs Hoax!
Oleh: Awaluddin Awe, wartawan senior

Minggu, 17 Mar 2019 | 07:12:56 WIB, Dilihat 220 Kali

Oleh ari

17 April, Mari Buktikan Hoax vs Hoax!

Baca Juga : Hati hati, Tiang Listrik PLN di Kototinggi Siap Makan Korban


Saya terus terang sungkan menulis isu ini sebab sudah dapat dipastikan resfonnya bakal tidak positif. Pasti bakal banyak yang saling tuding. Justru anda gudang hoax!

Jika mau berterus terang dan jujur. Kita sudah dapatkan satu harga yang sangat mahal yang harus kita bayar dari pertarungan memilih seorang presiden, pemimpin tertinggi di sebuah negara bernama Indonesia. Kemerdekaan yg diraih dgn rasa sakit yang sangat panjang.

Apa harga sangat mahal yang kita bayar itu, adalah kabar palsu alias berita tak bertuan, fitnah yang sangat kejam bernama hoax. Setiap detik mata kita disuguhkan dgn berbagai aneka macam tulisan, berita, gambar sampai video berdurasi pendek dgn pola suntingan pendek pendek.

Apa yang dikabarkan itu adalah tentang sosok dan calon seorang pemimpin di negeri ini. Kata kata yang dipakai adalah kata kata yang jahat dan merusak pikiran sekaligus menghapus memori baik dalam pikiran kita tentang seorang Jokowi atau seorang Prabowo Subianto. Termasuk tentang seorang Sandiaga Uno dan Kyai Haji Makruf Amin.

Kita melegalkan pembiadaban terhadap ke empat orang ini. Kita anologikan mereka sebagai seorang pecundang dan sebaliknya seorang superstar. Seorang kanibal atau sebaliknya superheroik. Kita membentuk wujud mereka menjadi apa yang diinginkan oleh pesan yang kita terima.

Kita mengkriminalisasi keempatnya dalam pikiran kita. Dan membuat mereka tidak memipiki harga diri sama sekali. Kita memaksa pikiran kita menjadi hakim dan memvonis mereka dengan hukuman sangat berat dan mungkin tak sebanding dengan kesalahan mereka.

Kita mengedukasi diri kita sebagai orang paling benar lewat share of share video dan sebagainya. Kita menjadikan diri kita sebagai orang paling tahu keburukan Jokowi, Prabowo, Sandi Uno dan Kyai Makruf Amin. Kita tak segan segan memberikan julukan buruk dan rendah terhadap diri mereka.

Para politisi, akademisi dan wartawan muncul sebagai alat pembenar. Setiap muncul meme baru muncul politisi gendut berkacamata atau tidak, menyatakan pembenaran atas isi pesan dan video tersebut. Wartawan menyebarkan berita ke mana mana dan rakyat memercayainya itu sebagai suatu kebenaran.

Akal sehat, pikiran sehat, hati tenang dan teduh kini tidak ada lagi. Setiap detik menit dan jam digaduh kiriman WA grup kini berubaha menjadi kasar, sensitif, jahat dan brutal. Jika ada info atau tulisan beda tampilan langsung main hujat, cebong atau kampret?!

Ya permainan politik pilpres yang dipengaruhi oleh pola kampanye asing memang telah mengubah mental rakyat, politisi, akademisi dan wartawan menjadi persis cebong dan kampret, sebuah wujud binatang yang sama sekali tidak pantas dipakaikan kepada wujud manusia sempurna seperti kita.

Tapi apa boleh buat. Teknologo gadget yang diproduksi negara asing bersama dengan fiturnya memang telah mengubah mentalitas bangsa ini menjadi biadab. Sudah tidak bisa lagi membedakan mana yang baik mana yang buruk. Mana nabi dan mana pula syetan. Semua sudah bercampur baur dalam kardus busuk bernama Pilpres.

Tidak satupun pihak yang mau meluruskan kenyataan buruk ini. Sebab semua pihak merasa dirinya paling benar paling hebat paling cerdas paling dicintai rakyat. Tidak pernah terbuka mata hatinya bahwa akibat pertarungan ini mereka harus berlawanan dengan anak dan istri, keluarga dan teman teman sendiri. Orang demokrasi dengan enteng menyebut beda itu indah.

Saya harus mengatakan bahwa Pilpres, termasuk 2019 merupakan satu sarana melihat kebobrokan sistem kampanye di Indonesia. Sistem ini tidak memprotek sama sekali segala bentuk pelanggaran norma dan etika ketimuran. Bahkan sebaliknya membiarkan kontestan dan pendukungnya saling cakar.

Sistem Pemilu di Indonesia tidak bisa melindungi presidennya sendiri dari praktik penghinaan dan perendahan lambang negara itu. Dan sistim Pemilu tidak bisa memberikan edukasi tentang kapan presiden bicara dan kapan petahana tampil.

Jika sistim ini tidak diubah maka suatu saat Indonesia akan masuk dalam perpecahan nyata ditengah masyarakatnya dan berpotensi saling serang. Sebab pengaruh yang masuk dalam pikiran rakyat tentang kedua calon itu sudah melebihi keyakinan mereka terhadap agama dan keyakinan masing masing.

Ini bisa terjadi disebabkan oleh sistim kampanye hitam. Membalikan kenyataan atas sebaliknya. Mengkontrakan info baik dgn info buruk dan memposisikan capres sebagai makhluk jahat dan kejam. Tidak punya rasa kemanusiaan. Makhluk sangat biadab. Tidak beragama dan sebagainya.

Budaya demokrasi di Indonesia benar benar telah berhasil mengubah sikap dan mental rakyatnya menjadi tidak punya lagi adat istiadat dan tata cara ketimuran. Sekarang sudah bisa menulis dan menyebut presiden dungu, bodoh dan lain sebagainya. Ini akibat pengaruh dan didikan profesor sinting seperti Rocky Gerung.

Lembaga negara sudah tidak ada lagi karena wakil ketua dprnya dengat sangat gampang membangun anologi buruk tentang presiden. Kenapa saya cenderung menyebut presiden sebab lembaga ini yg perlu kita selamatkan. Soal Jokowi kemudian menang atau kalah, atau sebaliknya Prabowo kalah lagi atau sekali ini menang. Itu urusan lain.

Saya bicara tentang perubahan menjijikan dari perilaku rakyat akibat pemaksaan pola memenangkan pilpres. Memperbolehkan melakukan apa saja demi tercapainya kemenangan. Itu yg saya sebut perlu kita perbaiki ke depannya.

Pilpres hanya berlangsung sekali lima tahun. Kehidupan sosial masyarakat berlangsung setiap hari. Jangan pisahkan hati rakyat dengan sesamanya oleh karena keinginan mememangkan pilpres. Kecuali jika memang ada tujuan menghancurkan negara ini, silahkan!



Hati hati, Tiang Listrik PLN di Kototinggi Siap Makan Korban
  • Hati hati, Tiang Listrik PLN di Kototinggi Siap Makan Korban

    Minggu, | 07:03:25 | 182 Kali


  • 480 ASN Brebes Naik Pangkat
  • 480 ASN Brebes Naik Pangkat

    Minggu, | 06:55:21 | 160 Kali


  • PKC PMII Sumbar Kutuk Tindakan Penembakan di Masjid Selandia Baru
  • PKC PMII Sumbar Kutuk Tindakan Penembakan di Masjid Selandia Baru

    Minggu, | 06:18:44 | 255 Kali


  • Wako Pariaman Ajak ASN Belanja ke Pasar Penampungan
  • Wako Pariaman Ajak ASN Belanja ke Pasar Penampungan

    Sabtu, | 11:45:58 | 140 Kali


  • Ansor Hadir di Bengkalis Riau, Kawal Islam Aswaja, Pancasila dan NKRI
  • Ansor Hadir di Bengkalis Riau, Kawal Islam Aswaja, Pancasila dan NKRI

    Sabtu, | 11:35:28 | 251 Kali