Ramadan, Bulan Kemulian
Oleh : Sidi  Tasrif (Pengajar  di  MTsN 1  Pariaman)

By ari 07 Jun 2018, 04:45:30 WIBOpini

Ramadan, Bulan Kemulian

Keterangan Gambar :


“Sesungguhnya Kami telah  menurunkannya  (Al-Qur’an)  pada  malam qadar.  Dan  tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan  itu  lebih baik daripada seribu bulan. Pada  malam itu turun para  malaikat dan Ruh ( Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahterah (  malam itu )  sampai terbit fajar.” (Q.s  Al-Qadr: 1-5).

Bulan  Ramadan,  merupakan  bulan yang penuh  berkah, bulan magfirah, dijaauhkan  dari  api neraka. Namun, banyak  diantara kita  yang  menyia-nyiakan  kesempatan  bulan  Ramadan  dengan  tidak  bersungguh-sungguh  dalam menghadapi   Ramadan.  Yang  terjadi,  menganggap   sama  saja  dengan  bulan-bulan  yang  lain  sehingga tidak menjalankan  dengan  penuh kebaikan.

Padahal,  kesempatan  yang paling  baik apabila  kita bersungguh-sungguh  dalam menghadapi  Ramadan  dengan  seoptimal  mungkin. Ramadan,  merupakan   bulan  yang  dimuliakan  oleh  Allah SWT,  diantara  kemuliaan  itu  al-Qur’an diturunkan pada  bulan suci Ramadan.

Al-Qur’an merupakan Kalam Allah yang diturunkan   kepada  Nabi Muhammad  SAW untuk seluruh  umat manusia sebagai  petunjuk bagi  manusia   dan  pembeda  antara  yang  hak dan bathil. Menjadi  rahmatan lil’alamin  untuk seluruh seluruh  umat  manusia. Bahasa Al-Qur’an  yang  indah dan menjadi  penyejuk  hati  bagi  yang  membaca  dan mendengar ayat-ayat  Allah.

Sebagai  Kalam Allah, yang  tidak bisa  dirubah  satupun ayat oleh  manusia. Allah  yang  menjaga  dan memelihara. Diantara  ayat-ayat  Allah yang  tersirat  dan  tersurat. Seperti,

Dan  seandainya  pohon-pohon  di  bumi  menjadi  pena dan lautan (  menjadi tinta),  ditambahkan kepadanya tujuh lautan  ( lagi) setelah (kering) nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat-kalimat  Allah. Sesungguhnya Allah  Mahaperkasa, Mahabijaksana.” ( Q.s Luqman:27 )

Al-Qur’an  adalah petunjuk bagi manusia  yang meletakkan dasar-dasar yang prinsip dalam segala  persoalan  kehidupan manusia dan  merupakan  kitab universal. Petunjuk  ini merupakan sendi utama  yang dimiliki agama Islam sebagai pedoman  hidup  bagi  penganutnya dan menjamin kebahagiaan  hidup di dunia  dan di akhirat  kelak. Allah SWT  menurunkan Al-Qur’an kepada  Nabi  terakhir kita  Muhammad  SAW,  dengan perantaraan  malaikat Jibril  secara  berangsur-angsur.  Malaikat  sebagai mediator  Allah SWT  dengan manusia, karena Al-Qur’an  merupakan petunjuk  bagi khalifah bumi ( manusia).  Ayat-ayat  Al-Qur’an diturunkan sesuai  dengan peristiwa-peristiwa  dan  kejadian-kejadian  serta  kebutuhan  Rasulullah  SAW (Muhammaf Chirzin, 1998: 15).

Kejadian ini merupakan peristiwa  besar  yang dialami  beliau selama hidupnya. Allah  SWT  berfirman,

“Dan  Al-Qur’an itu telah Kami turunkan  dengan  berangsur-angsur agar kamu  membacakannya perlahan-lahan kepada manusia  dan Kami  menurunkannya  bagian demi bagian.” (QS. 17: 106)

Al Kitab (Al-Qur’an) itu diturunkan  dari  Allah yang Maha Agung dan Bijaksana. ( QS. 45: 2 )

 

Dilihat  dari  ungkapan-ungkapan ayat-ayat  diatas  untuk  arti menurunkan,  semuanya  menggunakan kata  tanzil bukan inzal.  Hal  ini  menunjukkan  bahwa Al-Qur’an diturunkan  secara bertahap atau  berangsur-angsur. Berbeda  dengan kitab-kitab  samawi  sebelumnya  seperti  Taurat, Injil, dan Zabur  turunnya  sekaligus,  tidak bertahap.  Sebagaimana  ditunjukkan  oleh  firmannya:

Dan berkatalah  orang-orang  kafir:  Mengapa  Al-Qur’an  itu tidak  diturunkan  kepadanya  ( Muhammad  SAW) sekali  turun  saja?  Demikianlah  supaya  Kami perkuat  hatimu  dengannya dan Kami  membacakannya  kelompok demi  kelompok.” (QS. 25: 32)

Nuzul Al-Qur’an

Secara  harfiyah Nuzul Al-Qur’an dimaknai  sebagai  peristiwa  Al-Qur’an turun  atau turunnya  Al-Qur’an  dan  secara majazi  diartikan  pemberitahuan Al-Qur’an   dengan  cara  dan sarana  yang dikehendaki  Allah  SWT sehingga  dapat  diketahui  malaikat  di Laut al-Mahfudz  dan  oleh  nabi  Muhammad  SAW   di dalam  hatinya  yang suci.

Ada  dua  makna  nuzul Al-Qur’an   yaitu pertama  dari  kata  nazzala-yunazzilu  dengan makna  konotatif yaitu  turun secara  berangsur-angsur. Kedua,  dari kata anzala-yunzilu  dengan makna denotasi menurunkan. Dua  makna   diatas  sebagaimana  yang  diungkapkan  Al-Qur’an  relevan dengan turunny  Al-Qur’an.

Adapun tentang kayfiyat  Al-Qur’an itu  diturunkn  telah terjadi  silang pendapat antara para  ulama. Dalam  hal  ini ada tiga  pendapat, pertama: Al-Qur’an  itu diturunkan  kelangit  dunia  pada  malam  Al-Qadr sekaligus  yakni  lengkap dari  awal hingga  akhirnya. Kemudian  di diturunkan  berangsur-angsur  sesudah  itu  dalam tempo 20 tahun atau  23 tahun atau  25  tahun  berdasar  pada  perselisihan yang  terjadi  tentang berapa  lama  nabi   bermukin  di Mekkah  sesudah beliau diangkat  menjadi  Rasul.

Pendapat  ini  berpegang  pada  riwayat  Ath Thabary dari Ibnu Abbas,  katanya  sebagai   berikut:  Diturunkan Al-Qur’an  dalam Lailatul Qadr dalam bulan  Ramadhan ke  langit dunia  sekaligus  semuanya, kemudian dari sana  diturunkan  sedikit – sedikit ke  dunia. Dari segi  isnad, riwayat  tersebut  dapat  dipakai  tetapi tidak  kuat  betul.

Pendapat  kedua,  Al-Qur’an  itu  diturunkan ke langit dunia   dalam  20  kali Lailatul Qadar dalam   20  tahun atau  23   Lailatul  Qadr  dalam 23  tahun, atau  25  Lailatul Qadr  atau  25  tahun.  Pada  tiap-tiap malam   diturunkan  ke langit  dunia, sekedar  yang  hendak diturunkan  dalam tahun itu kepada Muhammad  SAW  dengan  cara  berangsur-angsur.

Pendapat  ketiga, Al-Qur’an itu permulaan  turunnya  ialah  di malam  Al-Qadr,  kemudian diturunkan  setelah  itu  dengan  berangsur-angsur  dalam  berbagai waktu.

Ada  pula  pendapat  bahwa  Al-Qur’an  diturunkan  dalam  tiga  kali  dan  tiga  tingkat. Pertama,  diturunkan  ke  Lauh Al-Mahfuz,  kedua ke  Bait Al-Izzah  di langit  dunia, dan ketiga diturunkan   berangsur-angsur. Meskipun sanadnya  shahih, DR. Subhi as- Shalih  menolak  pendapat  tersebut  karena  turunnya  Al-Qur’an yang demikian itu  termasuk  bidang  yang  ghaib  dan juga  berlawanan  dengan dhahir  Al-Qur’an (Muhammad  Chirzin, 1998: 13)

Ayat Al-Qur’an  yang pertama  kali  turun  ialah  QS. Al-‘Alaq  ayat 1-5.  Pada  mulanya Rasulullah  SAW  diberitahu  lewat  mimpi  pada  bulan kelahirannya  yaitu  bulan Rabiul Awwal.  Kemudian diturunkan  kepada  beliau  dalam keadaan sadar. Sebagaimana  hadis  dari Aisyah r.a yang diriwayatkan Bukhari-Muslim. Peristiwa  itu  terjadi  pada  malam   Senen  17  Ramadhan tahun 41  dari kelahiran beliau  dan  bertepatan   dengan 6  Agustus 610  M di Gua  Hira’. Ketika turunnya wahyu pertama (Iqra’)  beliau masih sebagai  seorang Nabi, tidak  ditugasi untuk menyampaikan  kepada  orang lain. Namun setelah  turun wakyu  kedualah beliau ditugaskan untuk menyampaikan  wahyu-wahyu  yang diterimanya (QS, 74:1-7 ).

Menurut Muhammad Chirzin, dalam buku Al-Qur’an dan Ulumul Qur’an (1998: 16-17),  sejarah turunnya Al-Qur’an dibagi  dalam tiga  periode, agar  lebih  jelas tujuan-tujuan  pokok  Al-Qur’an.  Periode  pertama , kandungan wahyu Allah  SWT  berkisar   dalam tiga  hal, yaitu: pendidikan bagi Rasulullah SAW  dalam membentuk kepribadiannya (QS. 74: 1-7),  pengetahuan-pengetahuan  dasar   mengenai  keTuhanan (QS. 87  dan 112) dan  dasar-dasar  akhlak  Islamiyyah dan pembentukan masyarakat  muslim.

Periode  ini berlangsung  sekitar  4 sampai 5 tahun dan  telah menimbulkan  bermacam-macam  reaksi  di kalangan  masyarakat  Arab  terhadap  Al-Qur’an  ketika  itu. Reaksi-reaksi tersebut  nyata  dalam tiga  hal pokok: sebagian kecil  dari mereka  menerima  dengan baik, sebagian besar  menolaknya karena  kebodohan  mereka (QS. 21:24), keteguhan mereka  mempertahankan adat istiadat  dan tradisi  nenek  moyang  (QS. 43:22)  atau  karena  maksud-maksud  tertentu  dari satu golongan  dan  Al-Qur’an  mulai  melebar  melampau  perbatasan  Makkah  menuju  daerah-daerah  sekitarnya.

Periode  kedua,   berlangsung selama  8-9  tahun dimana ayat-ayat  Al-Qur’an   telah sanggup   memblokade  paham Jahiliyah  dari segala   segi sehingga   mereka  tidak  lagi  mempunyai  arti  dan kedudukan  dalam alam  pikiran sehat (QS. 16: 125), (QS. 41:13), (QS. 36: 78-82).

Periode  ketiga,  pada  masa  ini dakwah  Al-Qur’an   telah mencapai atau  mewujudkan  prestasi  yang sangat  besar.  Periode  ini berlangsung selama 10  tahun. Ini merupakan periode  yang  terakhir, Islam telah disempurnakan  oleh Allah SWT, dengan turunnya  ayat  yang  terakhir  surat Al-Maidah  ayat  3 ( ayat  tentang  hukum), ketika  Rasulullah   SAW  wukuf  pada  haji Wada’ pada  tanggal  9 Zulhijjah 10 H/  7 Maret  632  M.  Dan  ayat  terakhir turun secara  mutlak,  surat  al-Baqarah ayat 281, sehingga    dari ayat  pertama  kali  turun  sampai  terakhir  kalinya   memakan waktu sekitar 22  tahun.

Turunnya  Al-Qur’an secara   bertahap    pada  Nabi Muhammad  SAW     mengandung  hikmah diantaranya,    menguatkan   atau  meneguhkan  hati Rasulullah,   tantangan dan mukjizat,   mempermudah hafalan  dan  pemahamannya, kesesuaian   dengan  peristiwa   dan  pentahapan  dalam penetapan  hukum,  bukti  yang pasti  bahwa Al-Qur’an  diturunkan   dari sisi   Yang Maha  Bijaksana   dan Maha  Terpuji.

Untuk  itu  kita senantiasa  selalu   membaca, memahami, mengamalkan dan mengajarkan Al-Qur’an  agar  dapat  menjadi  manusia  yang terbaik.  Sebaik-baik  manusia  adalah  manusia    mempelajari  Al-Qur’an  dan mengajarkannya  sehingga  dapat memberikan  penerang  jiwa  dalam  hidup dan kehidupan  kita.

Di bulan Ramadan  ini, kita  senantiasa  membaca  Al-Qur’an  dan  mentadabbur Al-Qur’an  sehingga  setiap  ayat dan huruf  yang  kita  baca  dilipatgandakan oleh  Allah  SWT. Orang  yang senantiasa  membaca  dan  mendengarkan  ayat-ayat  Allah  setiap  waktu  diberikan  keberkahan  pada    nantinya. Apalagi  di  malam yang   10  malam terakhir  di bulan  Ramadan,  diberikan kemuliaan  dengan turunnya  malam  Qadar,  yang  lebih baik dari  seribu  bulan  atau umur  kita  83  tahun  lamanya.

Bayangkan  kita  senantiasa  bangun di malam Qadar  tersebut  dengan iktikaf,    memperbanyak  amal ibadah  dan amal  sholeh  yang  dilaksanakan  setiap  muslim. Allah SWT  memberikan  ampunan   dengan meminta ampun  kepadanya  dan dijauhkan dari  siksaan api  neraka.

Wallahu’alam  bisshowwab

Pariaman,   5  Juni 2018.

 



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Online Support (Chat)

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Jejak Pendapat

Siapakah Calon Walikota Pariaman 2018-2023 Favorit Anda?
  Dewi Fitri Deswati - Pabrisal
  Mahyuddin - Muhammad Ridwan
  Genius Umar - Mardison Mahyuddin

Komentar Terakhir

  • JaredTause

    viagra and cialis dosage and cost comparison <a ...

    View Article
  • Enendmax

    buy cheap generic cialis in online drugstore buy [url=http://bgencialisrx.com/#]cheap ...

    View Article
  • Apscbpunse

    gsn casino games <a href="https://onlinecasinoslotsparty.com/">on line casino ...

    View Article
  • SizSoync

    how many viagra can you take [url=http://buyviagragenfrx.com/]buy viagra online[/url] ...

    View Article