Prambanan Menjadi Saksi Sejarah Bertemunya Banser NU dan Kokam Muhammadiyah

By ari 17 Des 2017, 22:42:20 WIBNasional

Prambanan Menjadi Saksi Sejarah Bertemunya Banser NU dan Kokam Muhammadiyah

Keterangan Gambar :


Selama ini terkesan seperti perang dingin, antara Gerakan Pemuda Ansor dengan Pemuda Muhammadiyah. Untuk waktu yang relatif lama tidak pernah terjadi bentrok fisik, perkelahian dan sejenisnya antara kedua belah pihak, walau mengalami perbedaan idiologis, paham dan ajaran yang laten dan tajam. Dari urusan ubudiyah dengan basis fiqih sampai strategi dakwah dan sikapnya mengenai kebangsaan dan persoalan global.

Perbedaan khilafiyah sejak tahun 1912-1926 bahkan sampai kini kerap mewarnai diskusi-diskusi kecil di masjid, musholla, surau, warung-warung kopi bahkan di lembaga persekolahan dan madrasi. Perbedaan qunut sholat subuh, adzan dua kali dalam penyelenggaraan sholat jumat, bacaan usholli dalam sholat, mitoni dan ngapati dalam kehamilan, perbedaan rakaat sholat tarawih sampai tahlil, manaqib hingga ziarah Kubur.

Sikap NU yang adaptif terhadap budaya di masyarakat sering dituduh sebagai ahli Tahayul Bid'ah dan khurafat (TBC) berbanding terbalik dengan Muhammadiyah dengan jargonnya pemurnian Islam (purifikasi Islam). Dalam perkembangannya perdebatan itu mulai mereda seiring dengan munculnya kelompok islam baru yang disinyalir sebagai gerakan trans-nasional. Energi kedua organisasi besar wa 'ala alihi washogbihi ajmain seakan sibuk menangkis bahkan berhadapan dengan organisasi baru tersebut dengan perjuangan mereka menegakan khilafah Islamiyah. Mempertanyakan Pancasila dan menudu saudara yang sama-sama muslim dengan toghut bahkan menjadi bagian dari kafir (takfiri). Apalagi persambungannya dengan issu-issu yang di usung oleh ISIS.

Sabtu, (16/12/2017) menjadi momen bersejarah bagi kedua organisasi besar yang sama-sama mengusung moderasi Islam, yaitu Barisan Ansor Serbaguna (Banser) dengan Kokam Muhammadiyah. Mereka bertemu dalam Apel Kebangsaan yang dirangkai dengan Kemah Kebangsaan di Plataran Candi Prambanan Klaten Jawa Tengah.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qaumas (Gus Tutut)  bergandengan tangan dengan Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah Daniel Simanjuntak. Gus Tutut dihadapan Presiden RI Joko Widodo bertugas membaca teks Pancasila sedangkan Daniel membaca Deklarasi Pemuda Islam Indonesia. MC dari Pemuda Muhammdiyah sementara Komandan Upacara oleh Komandan Satuan Koordinasi Nasional (Kasatkornas Baner) dan yang membacakan doa adalah KH. Mahfudz Hamid (Gus Mahfudz) Sekretaris Majlis Dzikir dan Rijalul Ansor. Sungguh pemandangan yang langka persaudaraan lintas idiologis dan sangat warna warni.

Kurang lebih 20.000 Banser dan Kokam membaur dalam sebuah apel yang digagas untuk meneguhkan komitmen kebangsaan, persatuan dan cinta bumi. Sungguh pertemuan yang mengharukan, saya sendiri merinding menyaksikan peristiwa maha penting ini. Seakan kedua pemimpin organisasi kepemudaan moderat itu melupakan semua yang pernah terjadi. Idiologi, perbedaan paham dan ajaran diletakan serendah-rendahnya digantikannya dengan semangat persatuan, kebersamaan dan komitmen antar sesama pemuda Islam Indonesia.

Aktor dibalik kegiatan ini adalah Imam Nahrowi Menteri Pemuda dan Olahraga yang mepertemukan pimpinan kedua ormas kepemudaan tersebut dalam jamuan makan. Presiden Jokowi merespon dengan baik sampai-sampai mengagendakan khusus untuk datang dalam apel kebangsaan di Prambanan ini. Namun tanpa kesadaran kedua tokoh kita ini pertemuan dan apel kebangsaan itu tak mungkin terjadi. Ini adalah sejarah pemuda Islam Indonesia, sejarah bangsa dan sejarah bagi siapapun yang ingin membangun ke-Indonesiaan. Benar-benar Prambanan menjadi saksi sejarah bertemunya kedua organisasi Islam moderat, Banser NU dan Kokam Muhammadiyah.

Publik menaruh harapan besar terhadap kedua ormas kepemudaan ini, disaat munculnya kontestasi paham dan gerakan Islam yang radikal, mengusung paham salafi wahabi yang anti Pancasila dan NKRI. Sementara khilafah Islamiyah menjadi tujuan akhir dari perjuangannya. Dipilihnya Candi Prambanan sebagai tempat Apel Kebangsaan, menurut Menpora Imam Nahrowi adalah untuk menunjukan bahwa Indonesia ini sangat plural dan bhineka tunggal ika. Tema cinta bumi juga dipilih untuk meneguhkan komitmen ke-Indonesiaan dimana kita lahir dan dibesarkan dalam satu wadah yaitu nation state yang bernama Indonesia.

Kegiatan apel diakhiri dengan sessi foto bersama Presiden Joko Widodo, Menko Polkam Wiranto, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrowi serta sejumlah Menteri lainnya. Tak ketinggalan antara pasukan Banser dengan Kokam Muhammadiyah. Sekali lagi, ini sayang untuk dilewatkan begitu saja untuk dicatat dengan tinta emas. Peristiwa ini akan selalu di kenang menjadi lembaran terindah dalam sejarah Pergerakan Pemuda Islam Indonesia. Islam radikal harus dilawan dengan Islam moderat agar Indonesia tetap selamat. Wallahu a'lam bi al shawab.(Ruchman Basori, Ketua Bidang Kaderisasi Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor).



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Online Support (Chat)

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Jejak Pendapat

Siapakah Calon Walikota Pariaman 2018-2023 Favorit Anda?
  Dewi Fitri Deswati - Pabrisal
  Mahyuddin - Muhammad Ridwan
  Genius Umar - Mardison Mahyuddin

Komentar Terakhir

  • WilliamGep

    online pharmacies no prescription [url=http://canadianpharmacyntx.com/]canadian ...

    View Article
  • xtaletbmvi

    <a href="http://baymontelreno.com">cheap viagra europe</a> order viagra ...

    View Article
  • Teeptdiesedah

    turning stone casino <a href="https://onlinecasinoslots.ooo/">posh casino ...

    View Article
  • immancato

    winstar casino <a href="https://casinovegas.ooo/">doubledown casino</a> ...

    View Article