Nama Kampung dari Etnis Lain di Pariaman (bagian-2/tamat)

By 28 Feb 2017, 15:29:04 WIBKomunitas

Nama Kampung dari Etnis Lain di Pariaman (bagian-2/tamat)

Keterangan Gambar : Salah satu sudut kampung yang kini sudah menjadi pusat Kota Pariaman. Foto:tanjung


Menurut Imam Maaz, sebelumnya Too Ghan termasuk warga Tionghoa yang dianggap saudara sendiri oleh warga Pariaman. Namun mendapatkan informasi kecurigaan keterlibatannya, pejuang makin menyelidiki siapa sebenarnya Too Ghan. Adakah kaitannya sebagai mata-mata (spionase) Jepang. Selama dua hari dilakukan penyelidikan, mencari informasi apa yang dikerjakan Too Ghan, kesimpulannya benar dia spionase Jepang. Malam harinya, Too Ghan diciduk di rumahnya dan langsung dibawa ke suatu tempat. Penangkapan juga dilakukan kepada adik perempuannya yang ikut membantu Too Ghan jadi spionase. Keduanya dibunuh dan dikuburkan oleh para pejuang di sekitar rel kereta api, antara Kampungnieh dengan Kampungkaliang. 


 Esok harinya, Minggu bulan Oktober 1945, warga Tionghoa buncah. Kabar “pembantaian” dua orang Tionghoa  segera tersebar. Pameonya, “ibarat Cino karam”. Warga Tionghoa berbondong-bondong menemui ketuanya, Kapten Chai. Menyaksikan suasana penuh ketakutan di kalangan warganya, dan untuk menghindari hal yang tak diinginkan, Kapten Chai segera mengeluarkan seruan. Hari itu warga Tionghoa diminta meninggalkan Pariaman. Maka terjadilah eksodus besar-besaran etnis Tionghoa dari Pariaman. Mereka amat ketakutan sehingga tak sempat membawa harta bendanya. Empat trip jadwal keberangkatan kereta api dari Pariaman menuju Padang, penuh sesah oleh warga Tionghoa. Sehari itu saja, Pariaman kosong dari warga Tionghoa. Harta benda mereka ditinggalkan begitu saja. 

Ternak babi yang dipelihara selama ini, tak terurus. Babi-babi tersebut berkeliaran ke luar kandang, menghilang ke dalam parak rumbio hingga sampai ke Kataping sana. Pertanyaannya, benarkah ada rencana  untuk menghabisi etnis Tionghoa dikalangan pejuang? Hanya saja tidak ada tokoh Pariaman yang menyakinkan dan memberikan jaminan terhadap keselamatan dan keamanan etnis Tionghoa. Kala itu tak pernah ada niat untuk menghabisi etnis Tionghoa. Hanya dua orang, Too Ghan dan adiknya saja karena ketahuan jadi spionase Jepang. Hanya dengan alasan itu saja. Tidak lebih.

Pasca peristiwa yang menggemparkan tersebut, beberapa waktu kemudian hubungan komunikasi warga Pariaman dengan warga Tionghoa yang pernah tinggal di Pariaman cukup baik. Akhirnya mereka menyadari kesalahan itu bermula dari keturunannya sendiri. Dikemudian hari, ada beberapa orang Tionghoa kembali ke Pariaman seperti A Liong yang membuka pabrik tahu di Batangkabung. A Liong terakhir terdengar kabar menjadi pengusaha sukses di Padang Sidempuan. Menurut Imam Maaz, dirinya masih sering bertemu dengan beberapa orang Cina eks Pariaman yang sekarang berada di Padang, Payakumbuh maupun di Sumatera Utara. Kesan jalinan kekerabatan yang masih dekat tetap terasa. Mereka juga masih fasih berbahasa Minangkabau, dialek Pariaman. Bahkan ketika berkunjung ke Kaban Jahe, Imam Maaz sempat bertemu dengan  salah seorang diantaranya dan tanpa sengaja “bersejarah”.  Dengan spontan sang babah langsung memanggil anak-anaknya yang berada di dalam rumah, “Lilian, Aseng, Achai, kemari cepat. Lihat mamak lu baru datang dari kampung .....” Ini menunjukkan rasa kekerabatan masih terasa, meski sudah sekian puluh tahun ditinggalkan si babah tersebut. 

Mathias Pandoe dalam artikelnya dimuat Padang Ekspres (Jumat, 24 Oktober 2008), menulis Kampung Ambon, Kampung Cina, dan banyak kampung yang lain itu sudah terbentuk di kota-kota pantai di Nusantara jauh pada zaman lampau. Ada indikasi bahwa beberapa kampung seperti itu sudah muncul sebelum orang Eropa datang ke Nusantara. Tapi kebanyakan kampung seperti itu terbentuk setelah Orang Eropa, khususnya Belanda, mulai bercokol di Nusantara.

Suryadi (2008) dalam sebuah tulisannya menyebutkan, konsolidasi penjajahan Belanda di Kepulauan Nusantara melalui serikat dagang VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie) sejak awal abad ke-17 telah ikut mempengaruhi struktur demografi kependudukan wilayah kepulauan ini. Banyak kelompok etnis melakukan penghijrahan dari daerah asalnya ke daerah lain, khususnya ke kota-kota pelabuhan. Migrasi itu ada yang dilakukan karena terpaksa (biasanya hal ini terkait dengan tugas militer dan perbudakan) dan ada yang dilakukan secara sukarela (biasanya karena motif ekonomi).

Orang-orang yang melakukan penghijrahan itulah yang membuat kampung-kampung sendiri di tempat mereka yang baru. Dapat dibayangkan bahwa pada waktu itu (abad ke 16 - awal abad ke-20) masing-masing etnis yang berpindah tempat itu, atau dengan paksa dipindahkan, sangat merasa asing di daerah mereka yang baru tempat mereka tinggal. Mereka umumnya tidak bisa berbahasa Melayu, oleh karenanya tidak bisa berkomunikasi dengan kelompok dari suku lain yang juga berimigrasi ke tempat yang sama. Hal ini berlaku juga bagi ras-ras asing yang datang ke Nusantara, seperti orang India (Keling), Arab, dan Cina. Salah satu cara, dan ini semacam naluri makhluk hidup pada umumnya, adalah tinggal berkelompok di wilayah yang sama di tempat yang baru itu.

Kondisi demikian agaknya juga tak jauh beda dengan di Pariaman yang menjadi bagian kekuasaan kolonial Belanda di nusantara ini. Terbentuknya nama-nama kampung seperti Kampungcino, Kampungnieh, Kampungjao,  dapat dipastikan pula kampung-kampung yang dihuni oleh orang-orang dari etnis dan suku bangsa tersebut. Walaupun tidak seperti pulau Jawa, yang banyak terdapat nama kampung selain seperti di Pariaman, berdasarkan etnis seperti Kampung Ambon, Bali, Bugis dan sebagainya. Pariaman sebagai kawasan pemukiman yang terletak di kawasan pantai barat pulau Sumatera memiliki pelabuhan punya peran penting keluar masuknya hasil-hasil bumi kawasan Minangkabau dulunya.  armaidi tanjung. (sumber, buku Pariaman Dulu, Kini dan Masa Depan, Pustaka Artaz, 2006). 

Referensi:
Erniwati, M.Hum (dkk), Kota Pariaman Dari Bandar  Dagang MEnuju Kota Otonom, laporan penelitian Balai Pelestarian  sejarah dan Nilai Tradisional Padang dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pariaman, 2008. 
Ardi Soma, Sejarah Pariaman: Studi Kasus Tindak Kekerasan Terhadap Etnis Cina Tahun 1945, Skripsi Fakultas Sastra Universitas Andalas, 1996 
Bagindo Imam Maaz, “Siapa Bilang Semua Cina Dibantai di Piaman…” Majalah Tabuik, diterbitkan Pemko Pariaman edisi 01/Triwulan 1/2010.
Suryadi, “Catatan tambahan untuk artikel Mathias Pandoe”,  Padang Ekspres 28 Oktober 2008 (Teras Utama)
 



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Online Support (Chat)

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Jejak Pendapat

Siapakah Calon Walikota Pariaman 2018-2023 Favorit Anda?
  Dewi Fitri Deswati - Pabrisal
  Mahyuddin - Muhammad Ridwan
  Genius Umar - Mardison Mahyuddin

Komentar Terakhir

  • BennyVog

    wh0cd42819 <a href=http://valtrex18.us.org/>valtrex tablets</a> ...

    View Article
  • Aaronpeemy

    wh0cd42819 <a href=http://prednisolone18.us.com/>prednisolone</a&g t; ...

    View Article
  • Aaronpeemy

    wh0cd42819 <a href=http://buy-albuterol.us.com/>albuterol</a> ...

    View Article
  • Charlesplemn

    wh0cd4205 <a href=http://propeciabestprice.us.com/>propecia</a> ; <a ...

    View Article