Mengkritik Tukang Kritik

By Armaidi 01 Feb 2017, 10:47:29 WIBOpini

Mengkritik Tukang Kritik

Keterangan Gambar :


Oleh : Salman Chan 

“Tukang kritik hanya pandai mengkrtik,  namun tak dapat berbuat apa-apa”, tulis seorang kawan di status facebook-nya. Membaca tulisan itu  saya merasa tergelitik  bahkan  tersindir. Karena saya  bayak menulis berbagai kritikan di media sosial.

 

Lalu,  apa  itu  kritik ? Defenisi kritik menurut  Kamus Besar  Bahasa Indonesia (KBBI)  adalah

kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya. Pekerjaannya disebut mengkritik, orangnya  disebut pengkritik.

 

Sinonimnya  adalah apresiasi, catatan, celaan, iktirad, kecaman, komentar, penilaian,  pertimbangan, sanggahan, siasat, suara miring, teguran. Misalkan  tukang kritik adalah ibarat penonton dalam pertandingan   bola. Keberadaan penontong sangatlah perlu. Tanpa sorak- sorai dan  gemuruh tepuk tangan penonton tentulah pertandingan  tak akan menarik.   Penonton, memang  tak semuanya pandai bermain.

 

Akan tetapi,  karena seringnya ia menonton  berbagai pertandingan   ia jadi tahu kesebelasan mana yang diunggulkan dan yang tidak. Ia  tahu pemain yang hebat,  memiliki  skill yang tinggi  sehingga banyak memasukkan bola   ke gawang lawan. Ia juga kenal mana pemain yang  pemalas dan lamban berlari.  Yang setiap menendang, bola selalu meleset ke luar  gawang  dan

mengelinding   jauh  ke luar lapangan.

 

Jika permainan bagus dan pemain berhasil menyarangkan bola ke gawang lawan,  maka penonton tak segan bertepuk tangan  dan bersorak. “Gol !” memberi semangat.   Akan tetapi,  jika  dilihatnya pemain tak becus dengan sembarangan  mengarak bola, maka berdatanganlah berbagai protes:  Oi!, main macam apo ko!  Lah jaleh  barampek  nan mangapik, bagilik

juo bola baru. Indak namuah ma-opor!  Alah dirabuik bola dek lawan!”

 

Jelas  sekali penonton kecewa  dan mengkritik habis-habisan  pemain yang tak becus itu. Pemain tak usah pula marah dikritik. Terima saja   dengan senang hati. Atau tutuplah   telinga dan picingkan mata agar kritik tak terdengar.  Kalau  benar-benar tak ingin di kritik ,   bermain bola

saja dalam bilik.  Di sana tak akan ada yang protes.

 

Menjamurnya kritikan di media sosial  pertanda  semakin berkembangnya pemikiran  masyarakat.  Ditambah  tersedianya sarana yang cukup untuk menuangkan berbagai kritikan tersebut . Sekarang  masyarakat   tidak lagi  hanya mau “nrimo’.  Namun , ia telah berani mempertanyakan sesuatu yang dilihatnya bengkok atau menyimpang.

 

Ia akan menghujamkan kritikan kepada pemerintah  jika dilihatnya jalan penuh berlobang  sehingg banyak yang kecelakanan.  Ia juga melayangkan kritikan  jika pembangunan  dirasakannya timpang. Pengangkatan pegawai  yang tidak adil yang banyak mengangkat  orang dalam atau  orang terdekat. Penempatan aparat yang tidak sesuai pada bidang keahliannya. Banyak pejabat yang korup  demi   memperkaya diri,  keluarga dan kroni-kroninya. Banyak uang haram yang beredar saat terjadinya pemilu  legislatif dan pemilihan kepala daerah. 

 

Kritik juga ia layangkan ketika dilihatnya kepala daerah dan wakil rakyat yang  jika telah duduk di kursi empuknya lupa pada  janjinya untuk mensejahterakan rakyat.

 

Tukang kritik diminta untuk lembut dan santun menyampaikan kritik. Namun,  ironinya ketika kritikan disampaikan secara lembut dan santun yang mendayu dayu,  yang dikritik malah tertidur. Karena  ia menganggap kritikan yang dialamatkan kepadanya hanya seumpama nyanyian  angin lalu  yang masuk ke telinga kiri dan keluar di telinga kanan. Ia benar-benar  merasa dikritik  setelah beribu-ribu orang datang  berorasi dan mengarak  spanduk yang berisikan berbagai kecaman.

 

Bahwa, menjadi tukang kritik tidaklah  semudah menjadi   tukang angguk-angguk,  tukang iya pak-iya Pak!  Tukang kritik harus membangun katahanan  sikap karena ia tidak sedang  bersianyuik. Ia sedang  berjuang menyeberangi suatu arus. Kadang arus itu sangat deras alirannya.  Jika  tidak hati- hati ia bisa tergelincir sendiri.

 

Sedangkan “tukang angguk- angguk”  hanya butuh hentakan gendang.  Ia akan terus  mengangguk-angguk dan menari-nari irama   gendang yang  sedang orang mainkan.  Tentang  yang mengatakan, “tukang kritik hanya pandai mengkrit,  tak dapat berbuat apa-apa-pun!” maka tanpa ia  sadari,  ia telah pula mewisuda  dirinya sendiri  menjadi  pengritik.  “Pengkritik tukang

kritik”    (Salman Chan, 1 Februai   2017).



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Write a comment

Ada 1 Komentar untuk Berita Ini

  1. custom dissertation writing service 07 Mei 2018, 23:46:22 WIB

    In this place of the community profiles you can get the six ways to make the brand more powerful. Get your attention to this place and find the new place for the research network. With the help of you can make your market more strong.

View all comments

Write a comment

Online Support (Chat)

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Jejak Pendapat

Siapakah Calon Walikota Pariaman 2018-2023 Favorit Anda?
  Dewi Fitri Deswati - Pabrisal
  Mahyuddin - Muhammad Ridwan
  Genius Umar - Mardison Mahyuddin

Komentar Terakhir

  • Easy Payday Loan

    easy loans <a href="https://easypayday.us.com/">payday loan com</a> ...

    View Article
  • Payday Express

    easy money payday loans <a href="https://easypayday.us.com/">easy payday ...

    View Article
  • Online Loans

    cash in one hour <a href="https://loans2019.us.com/">loans online ...

    View Article
  • Fastest Payday Loan

    easy payday <a href="https://easypayday.us.com/">easy payday</a> easy ...

    View Article