Hoyak Tabuik, Ikon Pariwisata Pariaman
Oleh: Tasrif

By ari 11 Sep 2018, 19:21:13 WIBOpini

Hoyak Tabuik, Ikon Pariwisata Pariaman

Keterangan Gambar :


“Pariaman sabana langang, dibulan tabuik makonyo rami”

Kalau adiek alak mandapek nan sanang,  bari tompang badan kami”

 

Pariaman, sekarang jauh rancak bana, sebagai  kota perdagangan dan jasa dengan pariwisata  yang menjadi unggulan. Segala pembangunan  tabulalaik  urang mencalik kota Pariaman. Kota Pariaman  yang sudah  memisahkan diri  dari induknya Kabupaten Padang Pariaman, tetap menjadi  kebersamaan urang Piaman  sebagai  Kota  Sala Lauik.  Meskipun sudah terpisah  namun  badan tetap satu jua. Pelaksanaan Hoyak Tabuik Piaman  sebagai ikon pariwisata  yang mendunia   yang ramai dikunjungi setiap  tahunnya.

Pada  tahun 2018 dilaksanakan Hoyak Tabuik Piaman dimulai  tanggal  11 September s/d 23  September  yang puncaknya  hoyak  Tabuik pada  hari Minggu, 23  September. Bak  lautan  manusia, setiap  pelaksanaan hoyak tabuik Piaman   sangat luar biasa  sekali. Banyak orang-orang yang datang ke pusat kota Pariaman,  simpang tabuik Piaman sampai ke pantai Gandoriah, luar  biasa  manusia yang ramai  hanya melihat pesta  budaya  tabuik  Pariaman  yang  menjadi even pariwisata  setiap  tahunnya . 

Tidak hanya urang Piaman saja tetapi  para turis lokal  bahkan  para turis mancanegara yang datang menyaksikan  di saat puncak  acara  tabuik naik pangkek dan di buang  ke laut pada menjelang Maghrib.

Acara ini  bertepatan dengan peringatan tahun baru Islam 1 Muharram 1440 H.  Pariaman   begitu  ramai dikunjungi para wisatawan lokal  maupun mancanegara. Bak laksana semut  dimana ada  gula disitu ada semut.  Acara pesta  rakyat yang diadakan sekali setahun   memberikan dampak yang sangat  banyak.  Amak- amak nan manggaleh di pasar Piaman ke ciprak untung yang besar, apalagi di hari puncaknya, dagangan pada  laris manis.  Kalau  dapat setiap  hari ramai terus  Pariaman,  amuh  bisa kayo ambo ko mah, kato amak Elok, di salah satu kadai sembako.

Baa indak ka rami, urang  datang kasadonyo di Piaman. Apalagi sebelumnya sejak pindahnya  pusat Pemerintahan Kabupaten Padang Pariaman ke  Rimbo Kalam, Parit Malintang. Banyak   yang  merugi karena orang  berbelanja di hitung dengan  jari.  Namun, dengan adanya pesta  tabuik Piaman, urang  baito  rami dan  banyak yang singgah  ka lapau untuk  membeli makanan.

Sebenarnya, apabila dikemas  dengan  baik pesta  tabuik Piaman  memberikan   multi efek  bagi urang Piaman. Apalagi  dilaksanakan dengan sungguh-sungguh  akan  memberikan dampak  yang sangat  banyak  bagi  kemajuan Piaman. Dan  memberikan    kemampuan   yang sangat  lebih dalam  mengembangkan  pariwisata  di Piaman. Kalau bisa  menjadi ajang internasional dan disaksikan  bagi kalangan turis mancanegara.

 

Sejarah Tabuik Piaman

 Dalam  berbagai sumber, sejarah  kata Tabuik  artinya  peti  pusaka peninggalan  Nabi  Musa  yang digunakan  untuk menyimpan naskah-naskah  perjanjian  Bani Israel dengan Allah.

Upacara  adat    tabuik Piaman  untuk  memperingati  meninggalnya  Husein  ( anak Ali bin Abi Thalib, dan cucu  Nabi Muhammad SAW ) pada  61 Hijriyah yang bertepatan dengan 680  Masehi. Selain di Pariaman, ritual  mengenang    peristiwa  tersebut juga  diadakan di Bengkulu dengan nama Tabot dan prosesi adatnya yang  berbeda. Tabuik,  melambangkan  janji Muawiyah  bin Abu Sofyan ( Khalifah I Dinasti Umayyah) untuk menyerahkan   tongkat  kekhalifahan kepada  ummat Islam  setelah beliau  meninggal. Akan tetapi janji tersebut diingkarinya    dengan mengangkat anaknya  Yazid bin Muawiyah   sebagai putra mahkota.

Hoyak Hosen  dalam  perayaan tabuik, untuk menggelorakan   semangat perjuangan umat Islam dalam menghadapi  musuh-musuhnya.  Sekalipun   ratapan atas  kematian Husein  yang dipenggal  kepalanya oleh tentara Muawiyah   dalam perang Karbala  di Irak. Tradisi mengenang   kematian  kematian  cucu Nabi  ini menyebar   ke berbagai   Negara   dengan cara yang berbeda.

Menurut  Suryadi dalam Inioke. Com ( 15-11 2012), ada  beberapa versi   asal usul  tabuik Piaman. Versi pertama mengatakan   bahwa  tabuik  dibawa  oleh orang-orang  Arab  aliran Syiah  yang datang  ke Pulau Sumatra untuk berdagang. Sedangkan versi lain ( diambil dari catatan  Snouck Hurgronje)  tradisi tabuik  masuk ke Indonesia  melalui dua gelombang. Gelombang pertama sekitar abad ke 14 M,  tatkala hikayat Muhammad  diterjemahkan  ke dalam bahasa Melayu, melalui  buku itulah ritual tabui dipelajari anak nagari.

Gelombang kedua,  Tabuik pertama kali  diperkenalkan  anggota pasukan Islam “ Thamil” yang menjadi bagian  pasukan Inggris  pimpinan Jendral Thomas Stamfort Raffles. Saat itu   Inggris  menjajah Bengkulu pada tahun 1826, pasukan Thamil   yang kebanyakan muslim  setiap tahun menggelar pesta Tabuik, yang di Bengkulu  bernama Tabot. Setelah perjanjian  London 17 Maret 1829, Inggris  harus meninggalkan  Bengkulu  dan  menerima  daerah  jajahan Belanda  di Singapura.

Sebaliknya, Belanda  berhak  atas daerah-daerah jajahan Inggris di Indonesia termasuk Bengkulu dan wilayah Sumatera lainnya. Serdadu Inggris   yang angkat kaki dari Bengkulu, tetap pasukan Thamil  memilih bertahan   dan  melarikan diri  ke Pariaman yang    saat itu  daerah pelabuhan   yang ramai  di Pesisir Barat pulau Sumatera. Sekarang  orang Thamil itu dikenal di Pariaman, orang Keling yang  menetap di  Pariaman dengan nama kampung Kaliang.

 

Tabuik Piaman, penggerak kekuatan masyarakat Piaman

Dalam kontek  pemaknaan  tentang simbol  dalam upacara  Tabuik, terdapat unsur-unsur   perlambangan  yang secara umum  dalam prosesi  pelaksaan acara tabuik Piaman. Antara lain  Barantam yang artinya  mengadakan musyawarah, mengemukakan ide  atau gagasan. Barantam atau musyawarah mengandung makna  bahwa dalam kehidupan bermasyarakat  untuk menyelenggarakan  sesuatu terlebih dahulu dimusyawarahkan. Disamping itu untuk mensosialisasikan  budaya musyawarah  pada generasi selanjutnya  yang sudah mulai pudar dengan banyaknya cakak / tawuran dengan mengedepankan ego atau emosional masing-masing. Dengan musyawarah yang baik akan mencapai kesepatakan bersama untuk ditetapkan dan dijalankan secara  bersama-sama.

Prosesi pelaksanaan tabuik tersebut antara lain, pada tanggal 1 Muharram  pada pukul 17.00 sampai pukul 23.00 WIB  diadakan ritual  mengambil tanah. Pengambilan tanah tersebut dilakukan dengan  cara arak-arakan yang dimeriahkan    gandang tasa  sebagai alat  kesenian tradisional  Piaman. Mengambil tanah dilaksanakan oleh dua kelompok tabuik, yaitu tabuik Pasa  dan kelompok tabuik Piaman. Masing-masing kelompok mengambil tanah pada tempat yang berbeda dengan dilakukan  seorang laki-laki  yang berjubah putih sebagai pelambangan kejujuran Husein. Tanah itu  dibawa ke daraga sebagai  simbol kuburan Husein.

Pada tanggal 5 Muharram  sekitar pukul 18.00 sampai  dengan pukul 23.00 WIB  dilaksanakan  penebangan  batang pisang  di Alai Gelombang dan Kampuang Kaliang. Hal ini sebagai cerminan  dari  ketajaman  pedang  yang digunakan  dalam perang   Karbala   menuntut balas  atas kematian Husein. Penebangan batang pisang dilakukan   seorang laki-laki  dengan memakai baju warna hitan   yaitu  pakaian untuk bersilat. Batang pisang harus putus satu kali pancung    bertanda  kepala  Hosein   dipenggal dengan pedang Yazid  pada peristiwa perang Karbala tersebut.

Bertepatan   6 Muharram diadakan  maradai  sekitar pukul 14.00 sampai pukul 23.00 WIB  di Tabuik Pasa dan Subarang. Kegiatan ini dilakukan  oleh pihak keluarga penghuni   rumah tabuik. Secara beriringan   mereka berjalan mengelilingi daraga sambil membawa  peralatan  tabuik  seperti jari-jari, sorban, pedang sambil menangis, sebagai pertanda kesedihan  yang dialami  atas kematian Husein.

Pada  7 Muharam dilakukan  prosesi ma atam  di  daraga Tabuik Pasa dan Subarang  yang dimulai  sekitar pukul 13.00  sampai pukul 14.30 WIB. Pada  hari  itu  juga   diadakan  ma arak jari-jari  dari pukul 08.00 sampai pukul 23.00 WIB  di lokasi Tabuik Pasa di Karan Aur yang sudah permanen dan ada rumah lamo Piaman  dan Tabuik Subarang  di dekat Kantor Walikota Pariaman yang permanen rumah lamo Piaman dan luasnya yang elok dan bangus. Pada saat itu  dimeriahkan  dengan hoyak Tabuik Lenong  yang berukuran kecil  yang dilaksanakan   diatas kepala  seorang laki-laki  sambil diiringi  gandang tasa.

Setelah itu  dilanjutkan  dengan maarak saroban pada tanggal  8 Muharram a bertujuan  untuk mengabarkan  kepada masyarakat     bahwa penutup kepala Husein  yang terbunuh dalam perang Karbala. Biasanya   diadakan perang-perangan sampai  berdarah-darah dan  ada yang terbunuh dari dua kelompok tabuik yang berbeda  yang bertemu di tugu tabuik atau simpang tabuik  dengan   membawa pedang  laksana perang  sebenarnya. Sekarang ini  tidak lagi diadakan  hanya sebagai serimonial saja sebagai budaya.

Menurut ketentuan adat, pada dini hari tanggal 10 Muharram menjelang Fajar, dua bagian tabuik  yang telah siap dibuat   dipondok  ditempat pembuatan tabuik  mulai disatukan  menjadi tabuik  yang utuh, dengan  nama tabuik  naik pangkek sebagai lambang persatuan umat Islam  sanpai diarak ke jalan  menuju Lapangan Merdeka.

Pada prosesi tabuik  malam harinya diadakan pesta Anak Nagari dengan mengadakan acara   kesenian tradisional yang bertempat di dua tempat lapangan Merdeka dan Terminal Jati, seperti  randai, indang, silat  dan lainnya disamping hiburan lainnya dan para pedagang yang berjualan di malam hari.

Namun, sebagai  budaya untuk tabuik naik pangket ditunda    pada tanggal  23 September 2018 di hari Minggu, bukan lagi bertepatan pada tanggal 10 Muharram  sebagai mistis atau magnet  bagi ritual pada peristiwa  Hari Asyura atas kematian Hosein dalam perang Karbala.

Mulai Subuh sampai terbenar matahari , Pariaman laksana lautan manusia yang melimpah, apalagi di saat pembuangan tabuik menjelang  Maghrib. Ribuan ummat menyaksikan  acara  yang monumental tersebut.  Setelah tabuik dibuang ke laut semuanya pada pulang ke rumahnya  masing-masing.

Bahkan  ada juga  yang mempergunakan  dalam kesempatan dalam kesempitan, apabila  tidak  hati-hati sama sekali  ketika  berada di pantai Gandoriah. Banyak yang kehilangan dompet di saat kerimunan manusia. Hal ini hanya sekelumit kecil dari pesta  budaya tabuik Piaman.

Upacara  tabuik  pada  dasarnya   merupakan simbol  upaya  manusia dalam memandang   kesatuan alam  sebagai   sesuatu yang organis  yang tidak dapat dipisahkan   antara satu dengan yang lainnya. Tradisi ini sebagai mediasi  manusia  dalam  berkomunikasi   dengan alam  dunia  yang ada  di luar indera  manusia.

Hoyak Tabuik, ada yang menganggap sebagai perbuatan yang  mubazir dengan menghamburkan  uang milyaran   hanya sekedar    membuat  tabuik dan   membuang seketika.  Pandangan lainnya  alangkah uang yang milyaran itu dipergunakan untuk memberantas kemiskinan untuk  memajukan kesejahteraan  urang Piaman.

Namun,  namanya tabuik tetap saja menjadi ikon budaya  Piaman untuk  mempromosikan wisata Piaman ke mancanegara.

Wallahu a’lam bisshowwab. 5 September 2018



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Online Support (Chat)

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Jejak Pendapat

Siapakah Calon Walikota Pariaman 2018-2023 Favorit Anda?
  Dewi Fitri Deswati - Pabrisal
  Mahyuddin - Muhammad Ridwan
  Genius Umar - Mardison Mahyuddin

Komentar Terakhir

  • Aaronpeemy

    [url=http://valtrexbest.us.com/]Valtrex[/url] [url=http://effexorxr.us.org/]view website[/url] ...

    View Article
  • Jackplemn

    [url=https://lasix40.com/]lasix without a prescription[/url] ...

    View Article
  • Charlesmum

    what is the cheapest auto insurance state auto insurance company ...

    View Article
  • JamesDex

    http://nsreg.com/?a[ - =<a%20href=http://sildenafil2018.icu>sildenafil%20ci ...

    View Article